Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
Hendaklah kamu sepikir, sehati, sejiwa, satu dalam kasih ::>>Voice of Walak Student ::>> Naor Lano. Diberdayakan oleh Blogger.

    Reggae is My Life

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    One People One Soul

    Tampilkan postingan dengan label masyarakat walak. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label masyarakat walak. Tampilkan semua postingan

    SUKU WALAK ADALAH PENJAGA DAN AHLI WARIS TAMAN FIRDAUS ALLAH DI PAPUA SEBAGAI TAMAN EDEN

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua

    SUKU WALAKADALAH PENJAGA DAN AHLI WARIS TAMAN FIRDAUS ALLAH DI PAPUA SEBAGAI TAMAN EDEN
      Oleh : Merwan Wandikbo

    Walak merupakan salah satu sub suku bangsa dari Bangsa Papua terutama suku-suku Koteka (Koteka Tribal People) sebagai Suku Prib...umi Pewaris Tanah Sorga di Bumi yang ditempatkan TUHAN di Kawasan Pegunungan Tengah Papua, yang mana secara ekstensional kini mendiami Bumi Balim sebagai Tanah Leluhur Suku-Suku Bangsa Pribumi Papua.
     
    Dalam konteks prahistor is Bangsa Papua, maka sesungguhnya Suku Walak menempati suatu Wilayah yang pernah dijadikan Ajang Perjamuan Minum dan Makan Sang Raja Damai dalam Kisah Mitos Suci Bangsa Papua (tepatnya Bolakme dan sekitarnya). Itulah Kebenaran WENE ASLI Bangsa Papua (hingga kini masih dibungkam tabirnya) yang terjadi pada Zaman Kehadiran SANG KOYEIDABA / KORERI / KOWEI – Raja Damai. Jadi Wilayah Iluga Wolo seringkali disingkat IWO atau IWEK – adalah Situs Sejarah Bangsa Papua yang telah mana dihapuskan ketika Missionaris Masuk ke Tanah Papua–melalui Wissel (Enarotali) akhir tahun 1930 dan menyebar hingga ke daratan Kawasan Pegunungan Tengah Papua–dalam Wilayah Central bergland Ondeerafdeeling (Pemerintahan Kerjaan Belanda)–yang kerapkali disebut–Middle New Guinea (Paniai–Oksibil) dalam peta politik Pemerintmahan Kerajaan Belanda di Tanah Papua.
     
    Bangsa Papua–termasuk di dalamnya Sub Suku Bangsa WALAK–merupakan Suatu Suku Bangsa Yang Besar sebagai suku–suku Bangsa yang dipercayakan dan diberikan Hak dan Mandat Otoritas langsung oleh UGATAME (bahasa Mee, Orang yang menciptakan/Melukis Dunia dan Manusia atau cosmos).
     
    Mandat dan Otoritas Allah ini diberikan dengan pelimpahan kewenangan untuk menjaga Cuplikan Tanah Sorga yang mana dibawa kabur ALLAH dari Taman Suci Allah yang secara geografis adalah Negara IRAK (Di Timur Tengah) yang dahulunya disebut PERSIA–karena pelanggaran Konstitusi Taman Eden. Irak dan Timur Tengah (Termasuk Tanah Suci Mekkah) adalah manipulasi suku-suku Persia dan bangsa – bangsa Barat dengan target mencari kekayaan ALLAH dengan memanfaatkan Kerajaan Allah di Timur Tengah untuk mencari devisa Negara. Semua itu Omong kosong. ISLAM atau KRISTEN adalah hasil rekayasa budaya barat dalam rangka mencari EMAS, KEMENYAN dan MUR dalam TOPENG Agama – Glory, Gospel dan Gold. TAPI Firman Allah atau SUARA ALLAH – itu benar karena ALLAH itu ROH dan KEBENARAN–Bukan Tukang TIPU dan Tukang CURI seperti bangsa–bangsa Eropah dan TimurTengah.

    Sorga bukan ada di Timur Tengah atau Tanah Mesir sana lagi. Sorga sudah dipindahkan Ugatame di Tanah ini. Tanah Papua adalah Tanah Suci. Bukan MEKKAH atau YERUSALEM bukan Tanah Suci. Disana itu adalah BEKAS TANAH SUCI yang sekarang sudah tiada lagi dan telah dipindahkan UGATAME melalui MALAIKAT KERUP (Penjaga Taman Firdaus) ketika TRAGEDI EDEN.
     
    Semua dilakukan bangsa–bangsa rakus dengan Kabar Baik Allah dijadikan ALAT bargainning untuk Mencuri Emas, Membunuh Bangsa Papua demi Membangun Kejayaan Negera Mereka.
    Bangsa Papua memiliki SEJARAH LURUS dan Bukan Bengkok Atas Mandat Allah Yang Transendental. Dan Sejarah Sudah Ada jauh sebelum INJIL diberitakan di Tanah ini. Bangsa Papua adalah Umat Pilihan Allah
    mmemiliki Hukum ADAT sebagai instrumen yuridis yang diberikan ALLAH untuk Menjaga Taman Firdaus Ini dari bangsa–bangsa Barat Yang Rakus

    Pranata Hukum TAURAT Bangsa Papua jauh lebih sempurna diatas segala hukum di dunia yang sudah dibukukan dan didokumentasi oleh Pusat Studi Kedaulatan dan Demokrasi Di Tanah Papua sebagai Hukum Dasar (Grond Wet) untuk menunju NEGARA TAHTA SUCI PAPUA RAYA.
     
    Kepadaku Bangsaku Walak di Tanah Air – Hanya kepadamu hendaknya suatu WENE bahwa: Sesungguhnya KALIAN PEWARIS DAN PENJAGA TAMAN FIRDAUS. Patuhilah Aturan Hukum Adat–sebagai Hukum Dasar Allah. Maka kamu akan bermur panjang di Tanah Sorga yang diberikan TUHAN kepada Kita sehingga kita akan menuju PAPUA RAYA dibawah Mandat Otoritas Allah Demi Kemerdekaan Bangsa Papua Raya di Tanah Papua sebagai Tanah Suci.
     
    Janganlah Kalian mengikuti HUKUM Bangsa IBLIS yang datang hanya mau menghancurkan KEBESARAN PANJI KERAJAAN ALLAH Di ATAS OTORITAS ADAT BANGSA PAPUA–SEBAGAI BANGSA KEPUNYAAN ALLAH PENCIPTA BUMI Dan ALAM SEMESTA PAPUA RAYA Tercinta.
     
    Wahai Bangsaku, Kaum Kerabatku Kenapa Bangsa Papua kamu tidak Percaya pada TUHAN dan ALAM SEMESTA di ATAS TANAH PAPUA? Bukankah Papua adalah Taman Eden? Mari Kita Membangun Bangsa yang sudah dihancurkan Missionaris, Kapitalisme Amerika dan Dominasi Kekuasaan Politik Indonesia.
    Sumber: ://merwandnews.blogspot.com/ Mr: Merwand wandikbo, Artikel pribadi http

    Video : Suku Walak Wamena Merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Papua Barat

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua

    Perempuan Walak Diharapkan Menjadi Agen Perubahan

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua


    Perempuan Walak Diharapkan Menjadi Agen Perubahan

     Wamena - Perempuan Walak mempunyai komitmen yang kuat untuk menjadi agen perubahan bagi daerah yang dicintainya terutama kabupaten Jayawijaya, karena kegiatan yang dilakukan kaum perempuan suku Walak  sangat bermanfaat dalam pelaksanaan pembangunan, karena mempunyai kreatifitas yang baik sebagai seorang perempuan.

    Hal tersebut dikatakan Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo, SH, MH saat membuka  acara Seminar Perempuan Suku Walak Se Provinsi Papua yang berlangsung di Gedung Tongkonan Wamena diikuti 500 peserta dari 7 wilayah, Senin (13/10).

    Bupati Jayawijaya turut memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas daya upaya perempuan suku Walak yang telah melaksanakan kegiatan secara swadaya, hal itu membuktikan bahwa kaum perempuan dewasa ini telah diperhitungkan keberadaannya dalam pelaksanaan pembangunan. “Kaum perempuan tidak lagi dianggap sebagai kaum yang lemah, namun generasi penerus Kartini ini mampu menunjukkan jati dirinya sebagai wanita yang handal dan profesional,” ungkap Bupati Wempi.

    Menurutnya,pelaksanaan seminar kali ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan dalam kapasitasnya sebagai pelaku pembangunan, supaya terampil dalam berbagai bidang usaha yang menghasilkan dan menguasai dunia teknologi serta mampu dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

    Sementara itu ketua panitia Ny.Yuli Wenda, SE melaporkan kegiatan yang digelar selama 3 hari (13-15) dapat memberikan kesempatan berprestasi dalam membangun dan meningkatkan  kemampuan dalam dunia usaha, birokrasi, pemerintah maupun swasta, serta pengakuan hak, derajat dan pelimpahan wewenang kepada perempuan suku Walak untuk dapat  memimpin secara baik dan benar serta mampu menjaga hubungan yang harmonis, selaras, dinamis, dan berkesinambungan.
    Selain itu kegiatan ini juga untuk memperjelas status keaktifan dan peran serta dari kaum perempuan suku Walak yang memiliki karakter berbeda namun memiliki potensi  yang sama dengan perempuan suku-suku lainnya, dengan membangun sebuah prinsip bahwa hidup ini adalah sebuah anugrah dan harus lebih dihargai serta menjaga apapun yang diwariskan leluhur.

    Seminar Memperjelas Peran Perempuan Suku Walak

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua
    Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo ketika memberi bantuan kepada Ikatan Suku Walak (Iswal) dalam seminar, Senin (13/10) – Jubi/Islami
    L Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo ketika memberi bantuan kepada Ikatan Suku Walak (Iswal) dalam seminar, Senin (13/10) – Jubi/Islami

    Seminar Memperjelas Peran Perempuan Suku Walak

    Penulis :
    CUNDING LEVI
    Wamena, Jubi – Untuk lebih memperjelas status keaktifan pengurus, peran, dan memperjelas status hak serta kewajiban perempuan Suku Walak, maka Ikatan Suku Walak (Iswal) menggelar Seminar Perempuan Suku Walak Se-Propinsi Papua.

    Seminar yang dilaksanakan di Gedung Tongkonan, Wamena, Senin (13/10) tersebut, diikuti 500 peserta perempuan dari tujuh wilayah yakni, wilayah Wamena, Ilugua, Wollo, Eragayam, Barlima, Jayapura dan Timika. Acara ini juga dihadiri Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo yang sekaligus membuka kegiatan seminar perempuan Suku Walak.

    Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Suku Walak, Selesina Doga mengatakan, setiap perempuan Suku Walak yang mendiami daerah suku walak serta menggunakan bahasa Walak telah bersatu hati untuk menyatakan sikap dan kesetiannya, melalui persekutuan yang dibangun bertahun-tahun.
    Di mana, perempuan Suku Walak memiliki karakter yang berbeda namun memiliki potensi yang sama dengan perempuan pada suku-suku lainnya.

    “Perempuan Suku Walak terus membenahi diri sebagi masyarakat yang maju dalam perkembangan era saat ini, dengan demikian perempuan Walak tengah berusaha dan menyadari untuk menemukan maksud-maksud yang tersembunyi melalui berbagai kegiatan, karena perempuan suku walak telah membangun sebuah prinsip hidup bahwa hidup ini adalah anugerah dan harus lebih menghargai hidup,” kata Doga dalam sambutanya.
    Diakui Doga, untuk saat ini perempuan Suku Walak diharuskan dapat membangun kerjasama dan koordinasi dengan perempuan suku lainnya melalui wadah ikatan perempuan suku walak, dengan tujuan dan cita-cita untuk membangun dan mengurus semua kepentingan orang Walak yang mendiami berbagai wilayah.
    Dikatakan, pada dasar dan kenyataannya menunjukan, perempuan Walak bukan bagian dari Suku Walak karena yang mengatur rumah tangga ialah hanya diperioritaskan oleh kaum laki-laki tanpa melibatkan perempuan.

    Sebagai perempuan Suku Walak, katanya, perempuan Suku Walak menyadari adanya faktor yang mempengaruhi hal ini terjadi diantaranya faktor pendidikan, kesehatan, adat dan budaya, serta orang tua lebih memberikan kebebasan kepada pria untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.
    “Kepercayaan perempuan lebih rendah dari pada kepercayaan yang diberikan kepada laki-laki, serta pendapat laki-laki lebih diutamakan dari pada perempuan padahal konsep kemitraan perempuan dan laki-laki sebernarnya itu sama,” ujarnya.

    Untuk itu, melalui seminar ini dapat memberikan arti sebagai upaya peningkatan kemampuan perempuan dalam pembangunan kapasitas dan keterampilan agar mampu meraih akses dan penguasaan teknologi serta pengambilan keputusan.

    Sementara itu Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo mengungkapkan, pemerintah memberikan apresiasi pada kegiatan yang dibuat oleh kaum perempuan suku walak.
    Menurutnya, seminar seperti ini harus dapat diikuti oleh perempuan suku yang lainnya, dimana perempuan suku walak mempunyai komitmen yang kuat untuk menjadi agen perubahan bagi daerah yang dicintainya terutama di Kabupaten Jayawijaya.

    “Kegiatan yang dilakukan oleh perempuan Suku Walak ini sangat bermanfaat banyak dalam pembangunan, karena perempuan suku walak memiliki kreatifitas yang baik sebagai seorang perempuan,” papar Bupati kepada wartawan usai membuka seminar.

    Dalam mendukung kegiatan perempuan suku walak yang sedang berjalan, Bupati Jayawijaya memberikan sumbangan dana pendukung kegiatan serta dalam waktu dekat akan diberikan bantuan berupa kendaraan guna mengangkut hasil pertanian untuk dipasarkan serta dapat digunakan untuk kegiatan lainnya terutama kegiatan Perempuan suku walak. (Islami)

    Aksi Penangkapan Bagi Aktivis Papua

    Buctar, Aksi Penangkapan Bagi Aktivis Papua adalah sebuah spirit baru untuk melakukan perlawanan yang lebih radikal

    Buctar Tabuni Bersama Alm. Mako Tabuni
    Jayapura Voice Baptist,--  Ketua Parlement nasional papua barat Bucthar Tabuni mengatakan, Apa yang di lakukan oleh TNI/POLRI dan densus 88 terhadap seluruh aktivis KNPB adalah sebuah spirit baru untuk melakukan perlawanan yang lebih radikal dan militan. hal di sampaikan melalui akun facebook" Buctar Tabuni 17/10.

    Dia juga menulis," dilihat dari sisi manusia biasa adalah membawa sebuah ketakutan seumur hidup namun sebagai seorang pejuang adalah sebuah spirit baru untuk melakukan perlawanan yang lebih radikal dan militan. Untuk itu, di harapkan kepada semua aktivis KNPB jangan takut, jangan gentar, jangan lari dan jangan menyerah".
    Dia menambahkan "Ingat! Kematian dalam membela kebenaran adalah kemuliaan bagi kita dan penjara adalah istana bagi kita."
    Dalam akunnya di beri suatu penguatan atau spirit bagi anggota yang saat ini sedang dalam incaran kepolisian polda papua. ini kitipan yang di kirim akirim di akun facebook buctar tabuni.
    "Apa yang di lakukan oleh TNI/POLRI dan densus 88 terhadap seluruh aktivis KNPB, jika kita lihat dari sisi manusia biasa adalah membawa sebuah ketakutan seumur hidup namun sebagai seorang pejuang adalah sebuah spirit baru untuk melakukan perlawanan yang lebih radikal dan militan. Untuk itu, di harapkan kepada semua aktivis KNPB jangan takut, jangan gentar, jangan lari dan jangan menyerah. Ingat! Kematian dalam membela kebenaran adalah kemuliaan bagi kita dan penjara adalah istana bagi kita. Tetap TEGAR dan berdiri KOKOH. Maju....dan LAWAN. Buctar Tabuni."
    Hal ini sampaikan atas keprihatinan sebagai pimpinan aktivis yang belakangan aparat gabungan yang sedang melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis papua. Buctar saat ini berada dalam penjara atas vonis Hakim8 bulan penjara dengan  tunduhan pengurusakan LP abepura di tahun 2010 silam". (tw)

    Enembe: Perempuan Walak Harus Semangat Seperti Perempuan China

    Enembe: Perempuan Walak Harus Semangat Seperti Perempuan China

    Gubernur Provinsi Papua saat membuka Seminar Pemberdayaan Perempuan Suku Walak di Balai Pertanian, Sentani- Kabupaten Jayapura, Kamis (31/10) kemarin. SENTANI  – Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe SP. MH  membuka secara resmi seminar pemberdayaan perempuan Suku Walak Se-Provinsi Papua di Aula Balai Pertanian, Sentani Kabupaten Jayapura, Kamis (31/10) kemarin sore. Seminar yang dilakukan selama tiga hari itu dengan tema: “Menata diri untuk berubah” dan Sub tema : Melalui Seminar Kita Wujudkan Kemandirian Untuk Menghadapi Tantangan Era Globalisasi”.

    Dalam amanatnya Gubernur, menyampaikan rasa bangga kepada masyarakat walak terutama kepada Pemberdayaan perempuan suku walak Se-Perovinsi Papua yang sedang melaksanakan seminar selama 3 hari kedepan untuk meningkatkan kualitas yang unggul bagi kaum ibu-ibu Suku Walak. “Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, bahwa suku Walak sangat berkompeten dalam potensi-potensi yang dimiliki seperti, keahlian dalam kerajinan tangan, keahlian dalam perekonomian, keahlian dalam pertanian.Hanya saja, keahlian itu belum bisa dibawa keluar,” ujarnya. Untuk itu, Gubernur  berharap ibu-ibu Suku Walak harus bisa menunjukan bahwa potensi yang dimiliki tidak kalah saing dengan apa yang dimiliki oleh Ibu-ibu di luar daerah lainnya.Hasil potensi yang dimiliki bisa dibawa keluar daerah Papua, dan Pemerintah Provinsi siap membantu.

    “Saya selaku Gubernur berharap kepada Ibu-ibu Suku Walak untuk harus ikut seperti perempuan China yang memiliki semangat dalam membangun jati diri mereka sebagai perempuan, baik didalam perekonomian, hasil pertanian maupun di bidang politik sangat berkualitas sehingga Ibu-ibu juga harus seperti itu,” harapnya.
    Gubernur merasa yakin kepada ibu-ibu Suku Walak untuk bisa mengikuti jejak perempuan China dengan harapan harus satu komando dan satu tujuan sesuai apa yang menjadi Visi misi dari Perempuan Suku Walak.

    “Intinya, bagaimana perempuan Suku Walak bisa menghadirkan manusia-manusia yang unggul dan tangguh serta mandiri menuju kesejahteraan sesuai dengan Visi Misi Gubernur dan Wakil Gubernur,” tukasnya.
    Dikatakannya, Visi Misi Gubernur Provinsi Papua tidak terlepas dengan memperhatikan pemberdayaan ekonomi di Papua, terutama pemberdayaan kaum Ibu dalam dunia usaha. “Kami sudah berkomitmen dengan Bank Papua untuk memberikan jaminan kredit kepada mama Papua yang mengembangkan dunia usaha, sehingga Ibu-ibu tidak perlu ragu karena Bank Papua bisa menjaminkan kredit dalam mengembangkan dunia usaha dan potensi-potensi yang dimiliki,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Sinode GIDI di tanah Papua, Pdt. Lipius Biniluk STh saat wawancarai Bintang Papua mengungkapkan, Wanita Walak memiliki potensi yang tinggi, intelektual tinggi namun tidak pernah dikembangkan karena tidak ada dukungan dari suami maupun kepada pemimpin di Pemerintahan.
    Dengan potensi yang dimiliki oleh wanita Walak ini diharapkan bisa belajar melalui seminar yang dilakukan selama tiga hari kedepan.”Saya yakin dengan seminar ini bisa membawa perubahan dilingkungan mereka, baik di Papua maupun diluar Papua,” tukasnya.

    Disamping itu, Wanita Walak tidak hanya bisa membangun dan mengembangkan perekonomian mereka, akan tetapi mereka bisa masuk dalam dunia politik. “Kita akui bahwa wanita Walak sebelumnya  terlihat biasa-biasa saja, tapi kedepan menjadi wanita walak yang sangat luar biasa dengan memiliki wawasan yang holistic, memiliki kemampuan yang tinggi seperti wanita-wanita lain,” ungkapnya. Untuk itu, diharapkan kepada Pemerintah agar memberikan kesempatan kepada Wanita Walak untuk bisa mengembangkan potensi dan wawasan yang mereka miliki, dan juga kepada Suami untuk memberikan keleluasaan kepada istrinya untuk  bisa mengambangkan diri, baik didalam dunia bisnis maupun di dunia politik.

    Ditempat terpisah, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Walak Se-Provinsi Papua, Juliana Tabuni menyatakan, kegiatan Seminar pemberdayaan Perempuan Suku Walak ini baru pertama kali dilakukan ditingkat Provinsi Papua, khsusu Perempuan SUku Walah Se-Pegunungan Tengah, sehingga kegiatan yang dilakukan ini merupakaan kebanggan tersendiri bagi perempuan Suku Walak. Dimana, kegiatan pertama yang dilakukan dihadirkan langsung oleh Gubernur Provinsi serta memberikan pembekalan dan motifasi kepada kaum perempuan Suku Walak se-Pegunungan tengah yang hadir pada saat ini.

    Dikatakannya, selama ini perempuan selalu tersisihkan karena merasa bahwa Perempuan Walak tidak memiliki Potensi, padahal banyak potensi-potensi yang dimiliki tapi tidak bisa berkembang. “Seperti inilah kami harus bangkit dengan menghadirkan orang-orang luar untuk bisa mengajari kami bagaimana potensi yang kami miliki bisa berkembang,” ujarnya didampingi Ketua Panitia Pemberdayaan Perempuan Suku Walak Se-Provinsi Papua, Verlina . Juliana mengungkapkan, seminar yang akan berlangsung selama 3 hari kedepan telah mengundang pemateri-pemateri dari luar untuk mengajarkan para kaum perempuan didaam dunia  bisnis dan potensi-potens yang dimiliki.

    “Dalam seminar mengangkat kualitas perempuan Suku Walak yang selama ini tersisihkan sehingga dengan harapan, pemerintah juga bisa memperhatikan kaum perempuan di Papua, terutama kaum perempuan Suku Walak,” harapnya. (Loy/bom/lo2)

     

    Watikam Post : Masyarakat Suku Walak Papua

    Masyarakat Suku Walak Papua

    Masyarakat Suku Walak Papua
    +Masyarakat +suku +Walak sangat merindukan +Alkitab dalam +bahasa mereka.

    Hal ini telah diusahakan Tim +Penerjemah Alkitab yang sedang bekerja, baru selesai Kitab +Markus, +Yohanes, +Kisah Para Rasul dan +Matius. Diharapkan dalam satu bulan ini +Lukas akan selesai juga. Ini berarti tinggal beberap Kitab lain. 
    Banyak tantangan yang di hadapi tim tapi sampai hari ini, masih bekerja aktif. Hasil yang sudah dikerjakan, khususnya Kitab +Yohanes, Kisah Para Rasul dan Lukas, akan mengadakan pemeriksaan dengan konsultan dari +Lembaga Alkitab Indonesia. Dalam hal ini Konsultannya adalah +Dr. Wenas Kalangit.
    Hal-hal yang perlu didoakan: Derbe ada kesulitan dengan Komputer. Karena itu tidak kerja sekarang. Kami perlu sewa kompu terdalam waktu dekat sebelum komputernya akan tiba dari LAI dalam akhir bulan ini. 

    Martinus dan saya sedang edit terjemahan Injil Markus. Harap dalam bulan ini selesai dan bulan depan ceking lalu print pada nopember untuk Injil Markus dan Matius.
    Doakan terus dalam situasi ini. 
    Tanggal 19 Juli-1 Agustus, akan ada pemeriksaan terjemahan Alkitab Bahasa Walak. Perlu dukungan doa supaya Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan. Terutama hikmat dan akal budi untuk memahami Injil Tuhan secara baik.

    Foto-foto yang ada adalah pemeriksaan yang pertama untuk Kitab Markus.



    Senin,

    UMA WENE
    Dalam blog Uma Wene ini, anda akan temukan berita-berita pelayanan di Suku Walak, Provinsi Papua, Indonesia. Pelayanan yang sedang kami lakukan adalah tentang: Penerjemahan Alkitab, Pendidikan Keaksaraan, Pengembangan Masyarakat, dan Penelitian Bahasa.  Selain ini, akan ada berita-berita seputar suku Walak dan juga orang Papua pada umumnya. Dan juga kami selalu akan memperbaharui rencana kerja kami sehingga teman-teman yang mendukung pelayanan kami dapat mendokan dan memantau pergerakan kerja kami.
     

    Rencana pemeriksaan itu akan terjadi pada tanggal 20-25 Mei 2013 ini. Harap akan berjalan sesuai rencana. Mohon dukungan doa.
     

    Walak Post : Pemekaran Kabupaten Walak di Papua

     MAU DAN TIDAK, WALAK HARUS MINTAH KABUPATEN BARU, BUKAN PERGESERAN KABUPATEN, TAPI MINTA OTONOM BARU!!!!


    Pemekaran Kabupaten Walak
    MENGAPA SELURUH INTELEKTUAL (CENDIKIAWAN) WALAK JADI SATU MINTAH PEMEKARAN/ MINTAH DAERAH OTONOM BARU PADA HAL SEBENARNYA TIDAK SETUJU ADANYA PEMEKARAN KABUPATEN TAPI MENGAPA ???
    JAWABANNYA SBB:

    1. TAHUN2 MENDATANG TERJADI PEMEKARAN BALIM CENTER, MAKA 4 DISTRIK SECARA TIDAK LANGSUNG AKAN TERGABUNG DENGAN KABUPATEN BALIM CENTER YAITU ANTARA LAIN: BOLAKME, TAGIME, JALENGGA DAN KORAGI.....

    2. TERJADI PEMEKARAN OKIKA, MAKA 1 DISTRIK AKAN HILANG YAITU DISTRIK BUGI,KARENA KABUPATEN OKIKA BATAS WILAYAHNYA SAMPAI DI MANDA....

    3. SEMENTARA 2 DISTRIK BERHASIL DICURI OLEH KABUPATEN MAMBERAMO TENGAH YAITU ILUGA DAN ERAGAYAM...

    4. ORANG WALAK TIDAK BERTINDAK,MAKA SUKU WALAK AKAN DICABIK SANA-SINI SAMPAI TIDAK ADA BEKAS,ARTINYA SUKU KITA AKAN MUSNAH....

    DENGAN DEMIKIAN, SUKU WALAK SEKARANG DIPERINGATKAN HARUS BERTINDAK MULAI SAAT INI, UNTUK MINTA ADANYA PEMEKARAN DI DAERAH WALAK......

    CATATAN: MAU DAN TIDAK, WALAK HARUS MINTAH KABUPATEN BARU, BUKAN PERGESERAN KABUPATEN, TAPI MINTA OTONOM BARU!!!!

    SALAM DAN TERIMA KASIH
    YESUS TOLONG BERI PENGERTIAN KEPADA KAMI...
    wALAK....WALAK...WALAK...WALAK...WALAK..

    Radar Walak : Sudah Saatnya Suku Walak Dimekarkan

    Sudah Saatnya Suku Walak Dimekarkan


    http://www.hmpw-sejayapura.blogspot.com/
    JAYAPURA - Kepala Suku Walak, Petrus Mabel, S.Pd., M.Si., mengatakan, sudah saatnya wilayah Suku Walak dimekarkan menjadi satu daerah otonom baru, karena telah memenuhi syarat. Dorongan pemekaran itu telah mencuat dari masyarakat Suku Walak, yang dicetuskan 800 lebih Kaum Perempuan Asal Suku Walak dan disampaikan dalam Seminar Pemberdayaan Perempuan Suku Walak di Aula Pertanian Yahim Sentani, 31 Oktober 2013.

    Acara ini dihadiri langsung Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.I.P., M.H.
    Dalam sambutan Gubernur Lukas Enembe, S.I.P., M.H., menyatakan, menerima usulan pemekaran wilayah Suku Walak tersebut, namun, Gubernur Lukas Enembe menyarankan untuk mengikuti mekanisme dan prosedur yang ada, guna aspirasi itu dijawab dengan baik. Dan tentunya selaku kaum intelektual Suku Walak berupaya untuk melaksanakan saran Gubernur Lukas Enembe tersebut.

    Suku Walak sendiri berada pada posisi tengah suku-suku lain di wilayah Pegunungan Tengah. Pada bagian Timur Suku Yali, bagian barat Suku Lany, bagian utara Suku Gem, dan bagian Selatan Suku Nayak. Meski Suku Walak adalah Suku Kecil, namun mempunyai wilayah yang cukup luas yang terbagi dalam wilayah Balima, Wolo, Iluga, dan Winamaregean di Jayawijaya dan Mamberamo Tengah. Dan suku-suku tersebut sudah menjadi kabupaten sendiri, sedangkan Suku Walak belum, dan ini yang akan diperjuangkan pihaknya.

    “Pemekaran ini sudah lama dirindukan rakyat Suku Walak. Kriteria menjadi otonom baru, itu memenuhi syarat, wilayah luas, SDA lebih kaya dari kabupaten lain yang sudah terbentuk, SDM juga sudah tersedia, kami punya sarjana dari diploma sampai doktor, pejabat eselon juga sudah ada yang tersebar di kabupaten lain,” ungkapnya dalam keterangan persnya kepada Bintang Papua, di usai pertemuan Kepala-Kepala Suku, dan Tokoh Masyarakat Suku Walak Afresto Cafe Abepura, Minggu, (03/11).
    Terhadap hal itu, terhadap suku-suku lain di luar suku Walak, terutama yang ada di wilayah Pegunungan Tengah, diharapkan turut memberikan rekomendasi bagi berdirinya Walak menjadi Kabupaten daerah otonom baru.

    Dijelaskannya, Walak adalah nama sebuah suku yang ada di Pegunungan Papua. Walak juga disebut sebagai nama bahasa. Orang Walak memiliki 5 wilayah adat, yaitu Wilayah Badlima, Wilayah Wolo, Wilayah Ilugwa, Wilayah Eragayam. Dan secara pemerintahan orang Walak memiliki 7 distrik yang terdiri dari dua distrik di Kabupaten Mamberamo Tengah (Distrik Eragayam dan Distrik Ilugwa), dan lima distrik di Kabupaten Jayawijaya (Distrik Wolo, Distrik Bugi, Distrik Yalengga, Distrik Biri dan Distrik Koragi).
    Jumlah penduduk suku ini diperkirakan 935.000 jiwa yang tersebar di beberapa distrik pada dua kabupaten itu (Tidak termasuk mereka yang ada di Jayapura, dan Timika. Jika jumlah tersebut ditambah dengan orang Walak di Jayapura dan di Timika, maka diperkirakan 1.550 jiwa lebih).

    Ditandaskannya, dari seminar tiga hari tersebut telah melahirkan beberapa rekomendasi, yaitu rekomendasi dibidang politik, rekomendasi dibidang ekonomi dan religi serta sosial kemasyarakatan. Sehubungan dengan itu mereka juga merekomendasikan kepada perempuan Walak di Wamena sebagai basis Suku Walak untuk menyelenggarakan Seminar Perempuan Walak untuk mengejar target-target dari rekomendasi seminar perempuan Walak di Jayapura. Seminar Perempuan Walak tahun berikut akan diselenggarkan pada tahun 2014 di Wamena. Diantaranya, (1) Bidang politik, yaitu meminta rekomendasi pemekaran kabupaten baru yaitu Kabupaten Walak. (2) Bidang pendidikan: perempuan mengambil Magister maupun doctor hingga keluar negeri. (3) Bidang Ekonomi: Perempuan Walak mampu berusaha bergerak dibidang bisnis. Meminta modal kepada pemerintah untuk memulai usaha. (4) Bidang Agama: Orang Walak harus tahu sumbernya, yaitu mengandalkan Tuhan dalam segala lakunya. Tingkatkan pendidikan di bidang teologi. (5) Mereka minta pak Gubernur memberikan modal usaha kepada ibu-ibu walak yang bergerak dibidang bisnis seperti penjual pinang dan pemelihara ternak babi. (6) Meminta bapak Gubernur untuk memperhatikan beberapa kader yang memenuhi syarat untuk diterima dalam kabinetnya di provinsi Papua. Ditempat yang sama, Tokoh Masyarakat Suku Walak, Boby Siep Waga, menyampaikan, dalam seminar tersebut, dirinya melihat bahwa usulan pemekaran itu itu benar-benar rencana Tuhan, karena Gubernur turut hadir dan memberikan tanggapan yang sangat positif.

    Selain alasan pada umumnya untuk pemekaran, tapi juga alasan lain yang patut menjadi pertimbangan Gubernur Lukas Enembe bahwa banyak anak-anak suku Walak yang telah lulus sarjana mulai dari diploma sampai doktor, namun umumnya bekerja di daerah lain, dan ada pula yang melamarkan pekerjaan namun tidak diterima, sehingga dengan adanya pemekaran itu, anak-anak Suku Walak kembali mengabdi dan membangun daerahnya sendiri. Senada dengan itu, salah satu Kaum Intelektual Suku Walak lainnya, Dr. Arius Togotly, S.Pd., M.Kes., menuturkan, para intelektual, sepakat dan sangat setuju untuk Walak menjadi daerah otonom baru, dengan nama Kabupaten Walak.

    “Kami sampaikan bahwa kami sebagai akademik, dan kami ikuti sama-sama untuk menentukan wilayah ini. Saya sangat menghargai dan terima kasih kepada perempuan Walak yang mempunyai kemampuan yang menyampaikan aspirasi dan menamai kabupaten Walak ini kepada Gubernur Papua. Kaum perempuan Walak telah SDM yang luar biasa, maka saat Perempuan Walak bicara pemekaran Kabupaten Walak itu. Kami siap membangun itu,” paparnya.

    Sementara itu, Kepala Suku, Woro, Iri, dan Bugi, Darius Togotly, menegaskan, dirinya langsung dari Wamena untuk mengikuti kegiatan Seminari Perempuan Walak tersebut, dan turut memberikan dukungan penuh atas aspirasi pemekaran yang disampaikan oleh perempuan dan rakyat Suku Walak.

    Untuk itulah, dirinya mewakili ketiga suku meminta kepada Bupati Jayawijaya, dan Bupati Mamberamo Tengah, untuk memberikan rekomendasi dukungan untuk Walak dimekarkan menjadi kabupaten tersendiri.
    Hal lainnya, Tokoh Agama Suku Walak, Pdt. Edy Togotly, S.Th., berkomitmen bersama seluruh rakyat Suku Walak untuk turut memperjuangkan lahirnya kabupaten otonom baru bagi Suku Walak melalui jalur-jalur resmi yang ada sebagaimana diarahkan oleh Gubernur Lukas Enembe.

    “Kami minta dukungan dan restu dari saudara-saudara kami yang ada di Papua, karena kami punya hak yang sama, karena kami penuhi persyaratan, dan itu sudah ada. Kami sudah punya pegangan kuat, karena aspirasi kami sudah diterima oleh Gubernur Lukas Enembe, maka kami akan lakukan pertemuan berikutnya untuk membahas tahapan-tahapan yang kami lakukan untuk perjuangkan kabupaten Walak ini menjadi kabupaten otonom baru. Kami percaya Walak diberikan Tuhan kepada kami,” pungkasnya.

    Sekadar diketahui, dalam kegiatan Seminar lalu, ada sejumlah hal yang dilaksanakan, yakni, pameran kreaktivitas orang Walak, seperti noken Papua, berbagai jenis bunga dan pot bunga, wig dan 6 judul buku yang ditulis oleh beberapa orang Walak seperti buku Fonologi bahasa Walak, Kutuk atau Berkat, Otsus Papua tidak Jelas dalam implementasinya.(nls/don/l03/@dv) 

    Sumber Berita : Bintang Papua

    Lewat Musyawarah HMPW, Masyarakat Walak Terus Pacu Bidang Pendidikan

    Lewat Musyawarah HMPW, Masyarakat Walak Terus Pacu Bidang Pendidikan 

    Jayapura—Kesadaran akan pentingnya pendidikan, disadari oleh masyarakat suku Walak. Hal itu sebagaimana diungkapkan Ketua Ikatan Keluarga Walak (IKW) Petrus Gombo, bahwa sejak lama masyarakat Suku Walak telah berupaya secara bersama-sama menanggung beban keluarga yag tidak mampu untuk dibantu dalam meneruskan pendidikan anaknya.
    "Kalau ada keluarga yang tidak mampu dan ada anaknya yang hendak meneruskan sekolah, maka masyarakat di kampung semua kumpul uang untuk bantu," ungkapnya kepada Bintang Papua usai pembukaan MUA (Musyawarah Umum Anggota) ke IX Himpunan Mahasiswa Pelajar Walak (HMPW) se Kota Studi Jayapura Papua, Sabtu (21/5).
    Tentang MUA sendiri, menurut pendiri HMPW, Daniel Tabuni (ketua Ikwal), adalah dalam rangka reorganisasi.
    "Hari ini kegiatan intinya reorganisasi pengurus," jelasnya.
    Peran HMPW sebagai wadah sebanyak 217 mahasiswa (data tahun 2011) bernaung, dikatakan, adalah organisasi yang punya peran besar terhadap pembentukan dan pembinaan anggotanya untuk lebih semangat dalam menimba ilmu di dunia pendidikan.
    "Wadah ini sudah banyak menghasilkan output, seperti saya sekarang sebagai dosen, dari wadah ini juga ada yang dalam waktu dekat meraih gelar Doktor, yaitu Bapak Arius Togotli," ungkapnya. (aj/amr)

    Tarian Asmat dan Walak Mamberamo Meriahkan FDS

    Sentani (ANTARA News) - Penyelenggaraan Festival Danau Sentani (FDS) III hari ke dua di Pantai Wisata Kalkhote, Sentani Timur, Jayapura, Minggu, dimeriahkan dengan pagelaran tarian Penjemputan Roh Leluhur dari Kabupaten Asmat dan tarian Ambiaro dari Suku Walak Kabupaten Mamberamo Tengah.

    Dari Sentani, ANTARA melaporkan, pagelaran seni tari dari kedua kabupaten tersebut mampu menyedot perhatian pengunjung FDS. Tidak sedikit pula diantara pengunjung tampak sejumlah wisatawan asing.

    Tarian Penjemputan Roh Leluhur dibawakan puluhan lelaki dan perempuan Asmat. Tarian ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang bepergian dari arah barat ke timur namun dalam perjalanan ia tidak diterima oleh penduduk pada setiap kampung yang ia datangi.

    Tarian ini diawali dengan masuknya rombongan penari perempuan bersama empat lelaki yang memukul tifa. Para penari perempuan menunjukkan kebolehan mereka bergoyang mengikuti irama dan bunyi tifa yang bertalu-talu.

    Beberapa saat kemudian, sekelompok lelaki Asmat dimana salah satu diantaranya dengan badan penuh lumpur hitam berelumpur masuk ke panggung dengan suara gemuruh.

    Setiba di panggung, puluhan laki-laki Asmat tersebut bergoyang ria dengan goyangan khas suku Asmat.

    Sebelum penampilan penari suku Asmat, 24 penari suku Walak Mamberamo Tengah yang terdiri atas 12 laki-laki dan 12 perempuan menampilkan atraksi tarian Ambiaro.

    Pelatih tim penari suku Walak, Petrus Mabel mengatakan tarian Ambiaro yang artinya satu mengisahkan perjalanan orang Papua alias bangsa Melanesia dari daratan Asia, tepatnya di Yunan hingga mencapai Pulau Papua.

    Menurut Petrus yang didampingi Kepala Suku Walak, Fanus Kanelak, leluhur orang Papua berlayar dari Yunan menuju Papau dengan melintasi Taiwan, Filipina dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini (PNG).

    Dari PNG, leluhur orang Papua melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.

    Sesampai di Genyem, leluhur orang Papua lalu satu persatu tersebar ke berbagai tempat di Papua yang selanjutnya melahirkan sekitar 252 suku yang menghuni Tanah Papua dewasa ini.

    "Karena kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah, maka tarian ini mengajak semua suku yang ada di Papua untuk bersatu membangun Papua baru," kata Petrus.

    "Tidak ada perbedaan antara orang gunung dan orang Pantai, kita semua adalah satu," tambah Petrus.

    Para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan) sebagai yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.

    Suku Walak dengan jumlah penduduknya sekitar lebih dari 30 ribu jiwa saat ini mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, sebagian Mamberamo Tengah dan sebagian lagi di Kabupaten Yalimo.

    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Provinsi Papua.

    Pagelaran seni dan budaya dalam memeriahkan FDS juga menampilkan atraksi kesenian dari sejumlah paguyuban Nusantara di Kabupaten Jayapura, diantaranya Paguyuban Jember, Ikatan Keluarga Toraja (IKT), Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), dan Kerukunan Keluarga Batak.

    Kegiatan FDS III dibuka pada Sabtu (19/6) oleh Irjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yoga dan berlangsung hingga Rabu (23/6). (E015/A038)



    Editor: B.Michael Kilungga

    NAMA-NAMA ILAHI DALAM KITAB SUCI

    NAMA-NAMA ILAHI DALAM KITAB SUCI
    Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tanggal 21 Oktober 2010 di Jayapura, Papua menggelar Seminar Sehari yang bertajuk: “Nama-nama Ilahi dalam Kitab Suci”, dengan menghadirkan 2 orang pembicara dari Departemen Penerjemahan LAI yakni: Pdt. Dr. Anwar Tjen dan  Bpk. Perry Katopo, M.Th.seminar_1.jpg
    Seminar yang digelar di Gedung Serba Guna Walikota Jayapura dibuka oleh Asisten II Walikota Jayapura dan disaksikan oleh Sekum LAI, Duta Pranowo, MBA., dan  dihadiri ratusan peserta yang berasal dari berbagai denominasi Gereja di Jayapura. Bahkan, tak sedikit pula peserta yang datang dari berbagai kabupaten di Papua, meski harus mengarungi lautan selama 2 hari menggunakan kapal laut. Ini membuktikan betapa tema penggunaan nama Allah dalam kitab suci telah menjadi isu hangat di tengah-tengah kehidupan jemaat.
    Narasumber pertama siang itu ialah Bpk Perry Katopo. Dalam makalahnya Ia mengulas secara mendalam tentang asal usul penggunaan nama YHWH dalam Alkitab yang oleh LAI diterjemahkan TUHAN. Selama lebih kurang 20 menit, pak Perry membacakan makalahnya secara teratur dan mendalam disertai penjelasan-penjelasan sehingga memberi  pencerahan kepada para peserta yang hadir.


    Selepas pemaparan Pak Kattopo, Pdt, Dr. Anwar Tjen  sebagai narasumber kedua pun tampil menguraikan  kata El, Eloah dan Elohim dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan oleh LAI  menggunakan  kata Allah. Dengan gayanya yang energik serta fasih, membuat suasana seminar saat itu semakin semangat. Pdt Anwar Tjen secara sistematis dan mendalam menguraikan hal-hal yang menjadi pertimbangan LAI, sehingga menggunakan kata Allah dalam Alkitab untuk menunjuk pada Yang Maha Tinggi. seminar.jpg
    Meski pemaparan yang diberikan kedua narasumber siang itu sangat jelas, namun ada beberapa peserta yang tidak puas. Walaupun ruang sesi tanya jawab berlangsung panas karena pro dan kontra diantara para peserta, namun semuanya bisa berjalan baik serta lancar. Dan di akhir seminar tersebut, para narasumber berkesimpulan, bahwa penggunaan kata TUHAN dan ALLAH dalam Alkitab terjemahan LAI untuk menunjuk pada Sang Ilahi adalah tepat dan bukan sesuatu yang mesti dipersoalkan oleh umat Kristen di Indonesia, khususnya di tanah Papua.
    Kesimpulan seminar sehari saat itu memang tak lantas mampu menyelesaikan persoalan penggunaan kata Allah dalam kehidupan jemaat. Tantangan Gereja pasti semakin berat dalam arus informasi yang semakin terbuka ini. Namun paling tidak, LAI telah membuat langkah awal yang selanjutnya akan diteruskan oleh Gereja-gereja di Tanah Papua.
    Pada sisi lain, Seminar sehari yang diselenggarakan LAI di Jayapura membuktikan betapa jemaat Tuhan di Tanah Papua membutuhkan pengajaran-pengajaran bermutu guna menjawab berbagai pergumulan teologi yang dialami oleh Gereja Tuhan. Semoga apa yang dibuat oleh LAI ini dapat menjadi agenda tahunan yang bukan saja bertujuan memberi pencerahan bagi warga Gereja, tetapi juga semakin mendekatkan LAI dengan jemaat Tuhan di Tanah Papua. [RG]

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    TARI Ambiaro adalah kesenian khas suku Walak, Papua. Dibawakan oleh 24 penari, terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan, tari ini mengisahkan perjalanan nenek moyang orang Papua, dari Yunan, di daratan Asia, hingga mencapai Pulau Papua.

    Perjalanan i(u dimulai dari Yunan, di daratan Asia, melintasi Taiwan, Filipina, dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini. Dari wilayah inilah, para leluhur melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala. Mereka selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.

    Dari Genyem, leluhur orang Papua satu per satu menyebar ke berbagai tempat, yang melahirkan sekitar 252 suku di Tanah Papua, saat ini.
    "Tari Ambiaro mengajak semua suku untuk membangun Papua Baru. Tari ini mengingat-kan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah," kata Petrus Mabel, seniman suku Walak.
    Saat membawakan tari Ambiaro, para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan). Ini sesuai dengan yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.
    Saat ini, jumlah anggota suku Walak mencapai lebih dari 30 ribu jiwa.
    Mereka mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, Mam-beramo Tengah, dan Kabupaten Yalimo.
    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo, dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Papua. (Ant/N-2)

    Pemanfaatan tumbuhan oleh suku Walak di Kecamatan Kelila Kabupaten Jayawijaya

    Pemanfaatan tumbuhan oleh suku Walak di Kecamatan Kelila Kabupaten Jayawijaya
    Research Report from IJPTUNCEN / 2001-07-17 09:32:00
    Oleh : Verena Agustini S., Dra., M.Sc, FKIP - UNCEN
    Dibuat : 1998-08-28, dengan 0 file

    Keyword : Tumbuhan, suku Walak, Kelila
    Subjek : Etnobotani
    Nomor Panggil (DDC) : PU 306.349 Agu
    Pemanfaatan summer daya alam tumbuhan oleh masyarakat suku Walak di Kecamatan Kelila, Jayawijaya telah dipelajari. Suku Walak merupakan salah satu suku diantara banyak suku yang ada di kabupaten Jayawijaya. Seperti umumnya masyarakat tradisional lain, masyarakat Walak juga banyak memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuban hidupnya.
    Ada 64 jenis tumbuhan yang tumbuh di hutan sekitar kecamatan Kelila yang dimanfaatkan oleh masyarakat Walak. 12 jenis belum teridentifikasi nama ilmiahnya. Sekitar 30 jenis digunakan suku Walak untuk membuat alat (tools) dan senjata yang umumnya untuk berburu dan berladang seperti panah, tombak, dan alat untuk menggali tanah. Masyarakat Walak juga memanfaatkan tumbuhan untuk obat-obatan, pewarna, bahan pangan baik makanan pokok maupun tambahan, serta untuk keperluan upacara ritual.
    Tumbuh-tumbuhan tersebut sebagian besar tumbuh secara alami di hutan sekitar tempat mereka tinggal, hanya sebagian kecil yang merupakan tanaman yang dibudidayakan.
    Deskripsi Alternatif :

    Pemanfaatan summer daya alam tumbuhan oleh masyarakat suku Walak di Kecamatan Kelila, Jayawijaya telah dipelajari. Suku Walak merupakan salah satu suku diantara banyak suku yang ada di kabupaten Jayawijaya. Seperti umumnya masyarakat tradisional lain, masyarakat Walak juga banyak memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuban hidupnya. Ada 64 jenis tumbuhan yang tumbuh di hutan sekitar kecamatan Kelila yang dimanfaatkan oleh masyarakat Walak. 12 jenis belum teridentifikasi nama ilmiahnya. Sekitar 30 jenis digunakan suku Walak untuk membuat alat (tools) dan senjata yang umumnya untuk berburu dan berladang seperti panah, tombak, dan alat untuk menggali tanah. Masyarakat Walak juga memanfaatkan tumbuhan untuk obat-obatan, pewarna, bahan pangan baik makanan pokok maupun tambahan, serta untuk keperluan upacara ritual.
    Tumbuh-tumbuhan tersebut sebagian besar tumbuh secara alami di hutan sekitar tempat mereka tinggal, hanya sebagian kecil yang merupakan tanaman yang dibudidayakan.

    PropertiNilai Properti
    ID PublisherIJPTUNCEN
    OrganisasiFKIP - UNCEN
    Nama KontakSungkana hadi
    AlamatWaena
    KotaJayapura
    DaerahJayapura
    NegaraIndonesia
    Telepon
    Fax
    E-mail Administratoracshadi@jayapura.wasantara.net.id
    E-mail CKOacshadi@jayapura.wasantara.net.id
    Print ...
    Kontributor...
    • Editor: superuser@ijptuncen
     
     photo 10157336_236740293197660_4426391203945210162_n_zps38b20ecb.jpg
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif