Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
Hendaklah kamu sepikir, sehati, sejiwa, satu dalam kasih ::>>Voice of Walak Student ::>> Naor Lano. Diberdayakan oleh Blogger.

    Reggae is My Life

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    One People One Soul

    Tampilkan postingan dengan label sosial budaya. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label sosial budaya. Tampilkan semua postingan

    Bukti dan Saksi : Perempuan Papua Dan Aceh Bangkit Dan Lawan

    Bukti dan Saksi : Perempuan Papua Dan Aceh Bangkit Dan Lawan


    Siapa Bilang Indonesia Beratu ? Siapa bilang kita belum merdeka, siapa bilang kita belum bebas, siapa bilang perjuangan kita telah usai ?? Rapatlah barisan hai PEREMPUAN Papua untuk bangkit dan lawan kolonial Indonesia. Tidak ada istirahat dalam peperangan. BANGKIT DAN LAWAN ! Freedom for West Papua. By Koprs Wanita Angkatan Darat Tentara Revolusi West Papua (TRWP)

    Siapa Bilang Indonesia Beratu ? Siapa bilang kita belum merdeka, siapa bilang kita belum bebas, siapa bilang perjuangan kita telah usai ?? Rapatlah barisan hai PEREMPUAN ACEH untuk bangkit dan lawan kolonial Indonesia. Tidak ada istirahat dalam peperangan. BANGKIT DAN LAWAN ! Freedom for ACEH (GAM). By Koprs Wanita Angkatan Darat GAM

    Share this post :

    Papua dan Papua Barat Teladan Toleransi Beragama

    Papua dan Papua Barat Teladan Toleransi Beragama

    Keberagaman suku dan budaya di Papua dan Papua Barat tidak serta merta menghantarkan terjerumus dalam masalah SARA, sebaliknya untuk masalah SARA sangat jarang bahkan hampir tak terdengar. Yang menarik dari Provinsi Papua dan Papua Barat adalah kehidupan beragama, toleransi beragama di provinsi ini patut menjadi teladan beberapa daerah lain di Indonesia yang rentan dengan konflik bernuansa SARA.

    Salah satu kabupaten yang hubungan Islam Kristen begitu erat terjalin keharmonisan adalah kabupaten yang di juluki kota pala atau kabupaten Fakfak, tak jauh dari kabupaten Maluku yang pernah terjadi konflik agama Islam-Kristen justru Fakfak, relasi Islam-Kristen sangat damai. Sedikit mengutip cerita sejarah leluhur bahwa dahulu setiap keluarga di kabupaten Fakfak beranggotakan keluarga kandung yang beda agama yakni Islam-Kristen, hubungan kekeluargaan yang sedarah inilah yang mempererat hubungan Islam-Kristen di kabupaten Fakfak. Secara turun temurun tradisi kasih sayang antara anggota keluarga sedarah, akhirnya tertulur kepada hubungan tetangga, lingkungan tempat tinggal dan meluas kepada masyarakat umum di kabupaten Fakfak, dari tuan-tuan tanah sampai kaum pendatang nuansa kasih sayang dan relasi beragama menjadi wajib dijaga untuk melestarikan nilai-nilai kekeluargaan dan budaya masyarakat Kabupat Fakfak. Atmosfir relasi Islam-Kristen yang damai menyebar luas ke kabupaten-kabupaten lain di Papua dan Papua Barat.

    Provinsi Papua Barat tergolong provinsi yang masih seumuran jagung, walau muda Provinsi Papua Barat sangat tepat menjadi panutan untuk provinsi lain di Indonesia, dalam hal relasi beragama. Perlu diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Papua Barat beragama Kristen, mayoritas Kristen tidak lantas menjadikan umat Kristen di tanah Papua Barat, bertindak semena-mena terhadap umat minoritas. Relasi Islam-Kristen di Papua Barat menjelang bulan puasa sudah menjadi tradisi bersama untuk saling menghormati, menyemangati, dan menghargai umat Islam yang sedang melangsungkan ibadah puasa. Melekat dalam ingatan perayaan tahunan di bulan puasa adalah ; jajanan kolak pisang dan es pisang ijo, serta jajanan lainnya yang bertaburan hampir di setiap jantung kota, sampai pinggiran kota di seluruh kabupaten dan kota di Papua Barat. Perayaan ini bukan saja menjadi perayaan yang dinantikan umat Islam, namun menjadi sukacita tersendiri bagi umat non Islam termasuk umat Kristen. Yang harus menjadi catatan negeri ini adalah ketika semua mata memandang, dan semua bibir berucap, bahwa Papua dan Papua Barat dari segi keamanan kurang kondusif, namun sesungguhnya umat muslim di tanah Papua dan Papua Barat memiliki pengalaman berbeda untuk keamanan yang di dirasakan dan dialami.

    Ketika orang takut untuk keluar rumah pada larut malam atau subuh dini hari, justru ibadah sholat subuh selalu dapat terlaksana dan tidak sedikit jemaah yang hadir dalam ibadah subuh tersebut. Ini menunjukan kepada masyarakat di Indonesia, bahwa mentalitas masyarakat Papua dan Papua barat adalah mentalitas kasih dan menghormati sesama manusia, menjunjung tinggi Pancasila yakni sila pertama’ Ketuhanan Yang Maha Esa’. Artinya masyarakat Papua dan Papua Barat mengakui bahwa Indonesia mengakui beberapa agama, dan agama yang diakui wajib untuk dihormati, dihargai dan dikasihi. Masyarakt Papua Barat tidak pernah mengenal seorang Arnold Toynbee ; ’semua agama pada dasarnya sama’. namun teori Toynbee, sudah sejak lama di praktekan di atas tanah Papua dan Papua barat, seperti contoh tuan-tuan tanah memberikan tanah mereka untuk di jadikan tempat ibadah tanpa ada persoalan di kemudian hari, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah lain di Indonesia, di Papua dan Papua Barat tidak pernah terjadi hal-hal anarkis yang merugikan agama lain, sebaliknya di Papu dan Papua Barat keberagamaan agama termasuk agama Islam, melakukan aktifitas keagamaan, selalu medapatkan dukungan baik dari agama mayoritas atau Kristen. Saat bulan puasa tiba, pemberitaan yang muncul di media tentang kondisi Papua di dunia internasional ramai dibicarakan, Nampak dalam kegiatan masyarakat ada kedewasaan beragama yang benar-benar harus jadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Realita pemisahan antara tiap sisi-sisi kehidupan mencerminkan masyarakat Papua yang notabene dalam pandangan masyarakat daerah lain di Indonesia terkesan negative justru masyarakat ini yang patut diteladani. sesungguhnya di Provinsi inilah relasi Islam-Kristen harmonis dan damai terbangun.

    Budaya Walak : Tarian Adat Suku Walak Baliem Valley

     Tarian Adat Suku Walak Baliem Valley
    Ragam Budaya Suku Walak Jayawijaya Papua
    Sentani (ANTARA News) – Penyelenggaraan Festival Danau Sentani (FDS) III hari ke dua di Pantai Wisata Kalkhote, Sentani Timur, Jayapura, Minggu, dimeriahkan dengan pagelaran tarian Penjemputan Roh Leluhur dari Kabupaten Asmat dan tarian Ambiaro dari Suku Walak Kabupaten Mamberamo Tengah.
    Dari Sentani, ANTARA melaporkan, pagelaran seni tari dari kedua kabupaten tersebut mampu menyedot perhatian pengunjung FDS. Tidak sedikit pula diantara pengunjung tampak sejumlah wisatawan asing.
    Tarian Penjemputan Roh Leluhur dibawakan puluhan lelaki dan perempuan Asmat. Tarian ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang bepergian dari arah barat ke timur namun dalam perjalanan ia tidak diterima oleh penduduk pada setiap kampung yang ia datangi. Tarian ini diawali dengan masuknya rombongan penari perempuan bersama empat lelaki yang memukul tifa. Para penari perempuan menunjukkan kebolehan mereka bergoyang mengikuti irama dan bunyi tifa yang bertalu-talu.
    Beberapa saat kemudian, sekelompok lelaki Asmat dimana salah satu diantaranya dengan badan penuh lumpur hitam berelumpur masuk ke panggung dengan suara gemuruh.
    Setiba di panggung, puluhan laki-laki Asmat tersebut bergoyang ria dengan goyangan khas suku Asmat.
    Sebelum penampilan penari suku Asmat, 24 penari suku Walak Mamberamo Tengah yang terdiri atas 12 laki-laki dan 12 perempuan menampilkan atraksi tarian Ambiaro. Pelatih tim penari suku Walak, Petrus Mabel mengatakan tarian Ambiaro yang artinya satu mengisahkan perjalanan orang Papua alias bangsa Melanesia dari daratan Asia, tepatnya di Yunan hingga mencapai Pulau Papua.
    Menurut Petrus yang didampingi Kepala Suku Walak, Fanus Kanelak, leluhur orang Papua berlayar dari Yunan menuju Papau dengan melintasi Taiwan, Filipina dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini (PNG). Dari PNG, leluhur orang Papua melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem. 
    Sesampai di Genyem, leluhur orang Papua lalu satu persatu tersebar ke berbagai tempat di Papua yang selanjutnya melahirkan sekitar 252 suku yang menghuni Tanah Papua dewasa ini.
    “Karena kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah, maka tarian ini mengajak semua suku yang ada di Papua untuk bersatu membangun Papua baru,” kata Petrus.
    “Tidak ada perbedaan antara orang gunung dan orang Pantai, kita semua adalah satu,” tambah Petrus.
    Para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan) sebagai yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.
    Suku Walak dengan jumlah penduduknya sekitar lebih dari 30 ribu jiwa saat ini mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, sebagian Mamberamo Tengah dan sebagian lagi di Kabupaten Yalimo.
    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Provinsi Papua.
    Pagelaran seni dan budaya dalam memeriahkan FDS juga menampilkan atraksi kesenian dari sejumlah paguyuban Nusantara di Kabupaten Jayapura, diantaranya Paguyuban Jember, Ikatan Keluarga Toraja (IKT), Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), dan Kerukunan Keluarga Batak.
    Kegiatan FDS III dibuka pada Sabtu (19/6) oleh Irjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yoga dan berlangsung hingga Rabu (23/6). (E015Suku SSdddd
    Sumber:
    http://www.ikwal-sejayapura.blogspot.com/2012/10/tarian-adat-suku-walak-baliem-valley.html#.UiKd4RY5TBY

    Pemprov Akui Kasus Puncak, Berat

    Pemprov Akui Kasus Puncak, Berat



    Constant Karma
    Constant Karma
    JAYAPURA —Pemerintah Provinsi Papua mengaku belum menemukan   solusi atau  jalan  keluar  untuk mendamaikan kedua massa yang terlibat  perang saudara  atau perang suku  di Kabupaten Puncak Papua akibat  perebutan  keikutsertaan   pada  Pemilukada sejak Agustus  2011 yang lalu.
    Sekretaris Daerah Pemprov Papua drh. Constant Karma  ketika dikonfirmasi  Bintang Papua di ruang  kerjanya, Selasa (24/1) mengatakan,  pihaknya  masih membahas bersama dengan Pemerintah Daerah  setempat dan unsur Muspida lainnya atas perang suku  yang terjadi di sana sejak Agustus tahun lalu.
    “Saya harus hati-hati sekali karena saya harus menjawab hati-hati karena masih ada proses-proses yang kami bahas,”  tukasnya.
    Ditanya  pihak  Pemprov ada utusan kesana, lanjutnya,  jangan saya jawab dulu, tra  usah. Ini bukan masalah gampang.
    Tolikara rencana Pemilukada tanggal 17 Februari. Kan rumit juga to dulu dan sudah bisa. Mudah-mudahan sampai tanggal 17  Pemilukada jalan. Pemilukada Kabupaten jalan, berarti selesai Tolikara. Kita hadapi Puncak lagi ya,”katanya.
    Sebelumnya DPR Papua mengaku akan turun langsung ke Kabupaten Puncak untuk mencari solusi perdamaian, agar perang saudara di sana tak lagi  berlanjut.

    Medan Sulit, Polda Papua Diberi Pesawat

    Medan Sulit, Polda Papua Diberi Pesawat

    Polisi di Papua sering tak bisa berbuat banyak mengungkap kejahatan karena medan sulit.



    Pesawat Cassa Skytruck milik Polri  

    VIVAnews - Polda Papua akan mendapatkan bantuan berupa pesawat dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bantuan itu diberikan untuk menunjang operasional polisi di Papua yang dikenal memiliki medan cukup sulit.

    "Dalam waktu dekat akan disiapkan pesawat Skytruck untuk Polda Papua guna menunjang kinerja menjaga Kamtibmas, terutama di sejumlah kabupaten di Papua yang kerap terjadi kerusuhan," ujar Aziz Syamsudin kepada wartawan saat melakukan kunjungan kerja di Polda Papua, 26 Januari.

    Tak hanya pesawat Skytruck, DPR juga akan memberikan bantuan berupa helikopter untuk Poda Papua. Untuk helikopter ini, masih dicek apakah armada di daerah lain ada yang bisa dialihkan ke Papua. "Kalau keberadaan heli di wilayah lain kurang optimal penggunaannya, maka akan diupayakan dipindahkan ke Papua," ucap Aziz.

    Menurut dia, kunjungan rombongan Komisi III ke Papua juga untuk membahas serta melihat langsung kondisi terakhir provinsi paling timur Indonesia. "Kami dengan Polda juga membahas gejolak Papua salah satunya Freeport, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam penanganan Kamtibmas," ungkapnya.

    Aziz mengatakan, sebenarnya perbandingan jumlah personel Polisi dengan masyarakat di Papua, sudah sangat ideal. Namun, kondisi geografis yang sangat sulit menjadi salah satu kendala dalam penanganan Kamtibmas. "Satu polisi berbanding 192 masyarakat sudah sangat ideal, tapi kondisi wilayah yang sebagian besar mesti ditempuh dengan pesawat, menjadi salah satu tantangan dalam menjaga situasi Kamtibmas disamping faktor lain yakni budaya," ucapnya.

    Fasilitas lain yang harus dipenuhi untuk menunjang kinerja Polda Papua adalah alat komunikasi. "Peralatan komunikasi yang minim juga menjadi kendala dalam memantau atau memonitor kondisi kamtibmas di sejumlah kabupaten di Papua," paparnya.

    Sebelumnya Polda Papua memiliki tiga pesawat Skytruck. Namun pesawat itu jatuh di Sarmi, Puncak Jaya, dan Nabire. Sehingga sejak tahun 2010 lalu, Polda tak memiliki armada tersebut. Dalam kunjungannya ke Papua, DPR RI juga akan melakukan kunjungan ke KRI Dewaruci yang sedang bersandar di Pelabuhan Porasko Jayapura dan juga akan melakukan audiens dengan Pemda Papua. (eh)

    Dua Suku Yang Bertikai di Jayawijaya, Akhirnya Berdamai


    Ratusan masyarakat dari dua suku yang bertikai saat melakukan perdamaian di Wamena, Sabtu (10/9).Tampak Ketua LMA dan pihak kepolisian sedang menyampaikan arahan.
    JAYAPURA- Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua beserta DPD LMA Wamena kabupaten Jayawijaya, Sabtu (10/9) berhasil melakukan perdamaian antara suku lawak dan suku kogoya, dimana sebulan yang lalu telah terjadi pertikaian antara dua suku tersebut.
     Ketua LMA Provinsi Papua Lenis Kogoya , S.Th, M.Hum saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos membenarkan adanya perdamaian tersebut. “Perdamaian tersebut didampingi pihak kepolisian dan juga tokoh masyarakat serta dua suku yang bentrok, yang mana perdamaian tersebut berlangsung di Wamena, Kabupaten Jayawijaya,” katanya saat di temui di ruang kerjanya.
     Dimana Ketua LMA ini menyatakan kesepakatan telah berhasil dilangsungkan, sehinga berjanji tidak akan ada lagi bentrok yang terjadi antar dua suku. “Kami berhasil mendamaikan kedua suku tersebut. Sehingga kesepakatan yang baik kami dapat, yang mana kami kedua suku berjanji tidak melakukan bentrok lagi,” ungkapnya.
     Dari perdamain itu juga, LMA berhasil mengajak delapan suku untuk bulan oktober nanti akan melakukan pertemuan tentang tradisi kepala bayar kepala atau kepala diganti dengan denda.
     “Kami LMA bukan untuk merubah tradisi, tetapi bagaimana jika terjadi konflik untuk dibicarakan baik, dengan mencari pelakunya dan menghukumnya dengan jalur hukum, agar nantinya tidak banyak yang dirugikan,” terangnya dengan harapan persetujuan dicapai pada bulan oktober mendatang.
     Dalam perdamai tersebut kedua suku juga menyerahkan ratusan babi dengan jumlah 276 ekor untuk tanda kesepakatan perdamaian.“Saya pinta kesepakatan ini bisa dipegang oleh kedua suku dan kedua suku semakin mempererat perdamaian dan juga berjabat tangan,” pinta Linius.
     Sebatas diketahui pada tanggal 6 Agustus seorang supir di bunuh didaerah kabupaten Lannyjaya dare suku Kogoya yang saat ini menyenggol seorang menyenggol anak kecil saat mengendarain mobilnya dan seorang nenek luka-luka. Higga akhirnya Suku Kogoya juga membalas perbuatan Suku Walak yang sama-sama dare pegunungan tengah. (ro/nan)

    Tarian Asmat dan Walak Mamberamo Meriahkan FDS

    Sentani (ANTARA News) - Penyelenggaraan Festival Danau Sentani (FDS) III hari ke dua di Pantai Wisata Kalkhote, Sentani Timur, Jayapura, Minggu, dimeriahkan dengan pagelaran tarian Penjemputan Roh Leluhur dari Kabupaten Asmat dan tarian Ambiaro dari Suku Walak Kabupaten Mamberamo Tengah.

    Dari Sentani, ANTARA melaporkan, pagelaran seni tari dari kedua kabupaten tersebut mampu menyedot perhatian pengunjung FDS. Tidak sedikit pula diantara pengunjung tampak sejumlah wisatawan asing.

    Tarian Penjemputan Roh Leluhur dibawakan puluhan lelaki dan perempuan Asmat. Tarian ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang bepergian dari arah barat ke timur namun dalam perjalanan ia tidak diterima oleh penduduk pada setiap kampung yang ia datangi.

    Tarian ini diawali dengan masuknya rombongan penari perempuan bersama empat lelaki yang memukul tifa. Para penari perempuan menunjukkan kebolehan mereka bergoyang mengikuti irama dan bunyi tifa yang bertalu-talu.

    Beberapa saat kemudian, sekelompok lelaki Asmat dimana salah satu diantaranya dengan badan penuh lumpur hitam berelumpur masuk ke panggung dengan suara gemuruh.

    Setiba di panggung, puluhan laki-laki Asmat tersebut bergoyang ria dengan goyangan khas suku Asmat.

    Sebelum penampilan penari suku Asmat, 24 penari suku Walak Mamberamo Tengah yang terdiri atas 12 laki-laki dan 12 perempuan menampilkan atraksi tarian Ambiaro.

    Pelatih tim penari suku Walak, Petrus Mabel mengatakan tarian Ambiaro yang artinya satu mengisahkan perjalanan orang Papua alias bangsa Melanesia dari daratan Asia, tepatnya di Yunan hingga mencapai Pulau Papua.

    Menurut Petrus yang didampingi Kepala Suku Walak, Fanus Kanelak, leluhur orang Papua berlayar dari Yunan menuju Papau dengan melintasi Taiwan, Filipina dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini (PNG).

    Dari PNG, leluhur orang Papua melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.

    Sesampai di Genyem, leluhur orang Papua lalu satu persatu tersebar ke berbagai tempat di Papua yang selanjutnya melahirkan sekitar 252 suku yang menghuni Tanah Papua dewasa ini.

    "Karena kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah, maka tarian ini mengajak semua suku yang ada di Papua untuk bersatu membangun Papua baru," kata Petrus.

    "Tidak ada perbedaan antara orang gunung dan orang Pantai, kita semua adalah satu," tambah Petrus.

    Para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan) sebagai yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.

    Suku Walak dengan jumlah penduduknya sekitar lebih dari 30 ribu jiwa saat ini mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, sebagian Mamberamo Tengah dan sebagian lagi di Kabupaten Yalimo.

    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Provinsi Papua.

    Pagelaran seni dan budaya dalam memeriahkan FDS juga menampilkan atraksi kesenian dari sejumlah paguyuban Nusantara di Kabupaten Jayapura, diantaranya Paguyuban Jember, Ikatan Keluarga Toraja (IKT), Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), dan Kerukunan Keluarga Batak.

    Kegiatan FDS III dibuka pada Sabtu (19/6) oleh Irjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yoga dan berlangsung hingga Rabu (23/6). (E015/A038)



    Editor: B.Michael Kilungga

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    TARI Ambiaro adalah kesenian khas suku Walak, Papua. Dibawakan oleh 24 penari, terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan, tari ini mengisahkan perjalanan nenek moyang orang Papua, dari Yunan, di daratan Asia, hingga mencapai Pulau Papua.

    Perjalanan i(u dimulai dari Yunan, di daratan Asia, melintasi Taiwan, Filipina, dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini. Dari wilayah inilah, para leluhur melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala. Mereka selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.

    Dari Genyem, leluhur orang Papua satu per satu menyebar ke berbagai tempat, yang melahirkan sekitar 252 suku di Tanah Papua, saat ini.
    "Tari Ambiaro mengajak semua suku untuk membangun Papua Baru. Tari ini mengingat-kan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah," kata Petrus Mabel, seniman suku Walak.
    Saat membawakan tari Ambiaro, para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan). Ini sesuai dengan yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.
    Saat ini, jumlah anggota suku Walak mencapai lebih dari 30 ribu jiwa.
    Mereka mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, Mam-beramo Tengah, dan Kabupaten Yalimo.
    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo, dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Papua. (Ant/N-2)

    Tarian Asmat dan Walak Mamberamo Meriahkan FDS


    Sentani (ANTARA News) – Penyelenggaraan Festival Danau Sentani (FDS) III hari ke dua di Pantai Wisata Kalkhote, Sentani Timur, Jayapura, Minggu, dimeriahkan dengan pagelaran tarian Penjemputan Roh Leluhur dari Kabupaten Asmat dan tarian Ambiaro dari Suku Walak Kabupaten Mamberamo Tengah.
    Dari Sentani, ANTARA melaporkan, pagelaran seni tari dari kedua kabupaten tersebut mampu menyedot perhatian pengunjung FDS. Tidak sedikit pula diantara pengunjung tampak sejumlah wisatawan asing.
    Tarian Penjemputan Roh Leluhur dibawakan puluhan lelaki dan perempuan Asmat. Tarian ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang bepergian dari arah barat ke timur namun dalam perjalanan ia tidak diterima oleh penduduk pada setiap kampung yang ia datangi.
    Tarian ini diawali dengan masuknya rombongan penari perempuan bersama empat lelaki yang memukul tifa. Para penari perempuan menunjukkan kebolehan mereka bergoyang mengikuti irama dan bunyi tifa yang bertalu-talu.
    Beberapa saat kemudian, sekelompok lelaki Asmat dimana salah satu diantaranya dengan badan penuh lumpur hitam berelumpur masuk ke panggung dengan suara gemuruh.
    Setiba di panggung, puluhan laki-laki Asmat tersebut bergoyang ria dengan goyangan khas suku Asmat.
    Sebelum penampilan penari suku Asmat, 24 penari suku Walak Mamberamo Tengah yang terdiri atas 12 laki-laki dan 12 perempuan menampilkan atraksi tarian Ambiaro.
    Pelatih tim penari suku Walak, Petrus Mabel mengatakan tarian Ambiaro yang artinya satu mengisahkan perjalanan orang Papua alias bangsa Melanesia dari daratan Asia, tepatnya di Yunan hingga mencapai Pulau Papua.
    Menurut Petrus yang didampingi Kepala Suku Walak, Fanus Kanelak, leluhur orang Papua berlayar dari Yunan menuju Papau dengan melintasi Taiwan, Filipina dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini (PNG).
    Dari PNG, leluhur orang Papua melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.
    Sesampai di Genyem, leluhur orang Papua lalu satu persatu tersebar ke berbagai tempat di Papua yang selanjutnya melahirkan sekitar 252 suku yang menghuni Tanah Papua dewasa ini.
    “Karena kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah, maka tarian ini mengajak semua suku yang ada di Papua untuk bersatu membangun Papua baru,” kata Petrus.
    “Tidak ada perbedaan antara orang gunung dan orang Pantai, kita semua adalah satu,” tambah Petrus.
    Para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan) sebagai yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.
    Suku Walak dengan jumlah penduduknya sekitar lebih dari 30 ribu jiwa saat ini mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, sebagian Mamberamo Tengah dan sebagian lagi di Kabupaten Yalimo.
    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Provinsi Papua.
    Pagelaran seni dan budaya dalam memeriahkan FDS juga menampilkan atraksi kesenian dari sejumlah paguyuban Nusantara di Kabupaten Jayapura, diantaranya Paguyuban Jember, Ikatan Keluarga Toraja (IKT), Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), dan Kerukunan Keluarga Batak.
    Kegiatan FDS III dibuka pada Sabtu (19/6) oleh Irjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yoga dan berlangsung hingga Rabu (23/6). (E015/A038)
    ————————————–
    Sumber: http://www.antaranews.com
    Edisi: Minggu, 20 Juni 2010 19:12 WIB
     
     photo 10157336_236740293197660_4426391203945210162_n_zps38b20ecb.jpg
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif