Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
Hendaklah kamu sepikir, sehati, sejiwa, satu dalam kasih ::>>Voice of Walak Student ::>> Naor Lano. Diberdayakan oleh Blogger.

    Reggae is My Life

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    One People One Soul

    Tampilkan postingan dengan label seputar walak. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label seputar walak. Tampilkan semua postingan

    Komunitas Blogger Koteka (KBK) Papua

    Komunitas Blogger Koteka (KBK) Papua
    Koteka Creating Weblog
     
    Paling tidak enak jika bertemu dengan orang yang selalu memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang paliBerbicara mengenai perspektif atau sudut pandang saya jadi teringat dengan ungkapan tentang dua orang yang melihat gajah dari sisi yang berbeda, orang yang pertama melihat gajah tersebut dari depan sehingga dia akan mengatakan bahwa gajah belalainya panjang dan kupingnya lebar, namun orang yang kedua melihat gajah tersebut dari belakang sehingga dia hanya melihat ekor dan dua kaki belakng yang besar dari sang gajah, ke dua orang tersebut bisa berselisih paham tentang apa yang paling menonjol dari sang gajah tersebut padahal keduanya melihat binatang yang sama, namun masalahnya adalah dari sisi mana mereka melihat. Itulah yang saya sebut sebagai problematik dari perspektif.Sebut saja contoh kecil, rata-rata orang eropa tidak suka mencium bau buah duren, tapi coba jika anda sebagai orang Indonesia ditawari duren, apalagi duren montong, wah pasti anda akan berbutan untuk menyantapnya, karena disamping buahnya harum rasanya juga enak, itu menurut perspektif anda sebagai orang Indonesia, tidak demikian halnya bagi orang barat. Nah hal inilah yang kadang-kadang dapat menjadi problem horizontal di antara makhluk sosial yaitu sesama manusia. Tak jarang masalah perbedaan perspektif dapat menimbulkan pertikaian yang serius di antara kita manusia, karena perbedaan perspektif akan mengarah kepada perbedaan pendapat dan prinsip tiap-tiap orang. Masalahnya adalah jarang sekali orang yang mau mengalah terhadap pendapat orang lain, kecenderungan manusia adalah berargumen untuk membenarkan pendapatnya sebisa-bisanya. Hanya orang yang memiliki sifat rendah hati dan suka damai sajalah yang bersedia mengalah selama problematik perspektif tersebut hanyalah masalah yang tidak terlalu bersifat prinsipil.
     
     
    Memang ada beberapa perbedaan perspektif yang harus diselesaikan dengan suatu standard baku seperti perbedaan yang terkait dengan masalah benar atau salah, baik atau buruk, hal ini biasanya akan mengacu kepada hukum, undang-undang, prosedur dll. Misalnya perbuatan membunuh tidak bisa hanya dilihat dari segi perpektif, tapi juga harus dari segi hukum. Halnya juga berkenaan dengan kebenaran prinsipil seperti misalnya tentang dogma atau doktrin agama. Perbedaan perspektif berkenaan dengan dogma agama atau kepercayaan memang harus bermuara pada konsep dasar fundamental yaitu kitab suci dari masing-masing agama yang bersangkutan. Tetapi jika perbedaan perpektif hanyalah hal-hal yang menyangkut selera lebih baik menggunakan dasar kasih, rendah hati, suka damai, dan mengalah ketimbang ngotot untuk selalu memenangkan dan membenarkan pendapat pribadi, padahal pendapat orang belum tentu salah.ng tahu, paling benar, paling hebat dan segala jenis paling lainnya. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar dan belum tentu juga pendapat orang lain itu salah, mengapa? Karena tiap-tiap orang memiliki perspektif masing-masing sehubungan segala hal sehingga jika terjadi suatu perbedaan pendapat berkenaan dengan suatu hal tertentu biasanya lebih banyak disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang, dan dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena benar atau salah sifatnya relatif tergantung dari sudut pandang mana sebuah problem dilihat oleh tiap-tiap individu orang. Ada ungkapan lama yang mungkin pernah anda dengar “lain ladang lain pula lalangnya, lain danau lain pula ikannya” yang mengartikan bahwa tidak ada manusia yang memiliki kesamaan persis, tiap-tiap orang berbeda-beda pola berpikirnya dan sudut pandangnya. Perbedaan orang dapat ditentukan oleh berbagai latar belakang, bisa latar belakang sosial, budaya, etnis, pendidikan, pengalaman, karakter, selera, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki ciri khas fisik tertentu seperti sidik jari, bahkan konon ceritanya anak kembar sekalipun dapat berbeda selera dan sifat. Maka janganlah heran kalau anda akan sulit sekali menemukan orang lain yang persis sama dengan sifat atau karakter anda. Saya menganjurkan anda janganlah berharap untuk mendapatkan teman yang memiliki sudut pandang yang sama atau selera yang sama dengan anda.
    Created By Watikam

    Rakyat Papua Jangan Mudah Terprovokasi Kedatangan Kapal Freedom Frotila

    Rakyat Papua Jangan Mudah Terprovokasi Kedatangan Kapal Freedom Frotila

    frotila2Berita terkait akan datangnya Kapal Fredom Frotila dari Australia yang membawa misi kemanusian dan diawaki oleh Suku Aborigin serta para aktivis Papua dengan tujuan memberikan dukungan kepada rakyat Papua untuk merdeka telah meracuni sebagian masyarakat Papua.
    Koordinator Gerakan Masyarakat Pribumi Papua (Gempa) Kabupaten Fakfak Apnel Hegemur belum lama ini saat melakukan aksi di depan kantor DPRD Fakfak dalam pernyataan sikap tertulisnya menyebutkan bahwa dalam waktu dekat ada kunjungan 5 menteri luar negeri ke tanah Papua, dalam rangka membicarakan hak dan kepentingan orang Papua.

    Selain itu juga aksi tersebut meminta kepada seluruh masyarakat Papua untuk memberikan dukungan terhadap rencana kunjungan dan kedatangan Freedom Frotila west Papua di tanah air, khususnya tanah Papua guna menyampaikan hasil pembicaraan kondisi dan hak Papua di Amerika Serikat, kedatangan tersebut beberapa waktu lalu dan akan dijemput oleh warga Papua saat tibanya Freedom Frotila west Papua.

    Pernyataan atau aspirasi tersebut disampaikan Apnel Hegemur beberapa waktu lalu di depan kantor DPRD mendapat kecaman dan dibantah oleh ketua KNPB Wilayah Fakfak Arnoldus Kocu. Menurut Kocu, dirinya mengatakan pernyataan yang disampaikan oleh kelompok Gempa merupakan pernyataan isu dan sengaja memprovokasi masyarakat khususnya yang ada di Fakfak.

    Saya himbau kepada seluruh rakyat bangsa west Papua khususnya di wilayah Fakfak agar jangan terprovokasi dengan isu tentang kedatangan kapal Freedom Frotila di Papua, tegas. Saat ini ada kelompok tertentu yang sengaja memainkan isu tersebut dan sengaja memprovokasikan masyarakat Papua dengan isu yang sedang digembar-gemborkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Menyikapi hal tersebut menghimbau kepada Pihak Kepolisian agar menangkap orang-orang yang memprovokasi masyarakat Papua dan mengganggu stabilitas keamanan Papua.

    Akhirnya Arnoldus Kocu dengan tegas menghimbau kepaa seluruh masyarakat Papua juga Komite Nasional Papua Barat agar jangan terprovokasi dengan isu tersebut, dan harus terus berkoordinasi dan konsultasi terhadap semua warga Papua terdekat agar jangan terpancing isu dan iformasi bohong, Jelasnya.

    Lates Post : Walak Students

    Pembangunan


    Pemkab Mamteng Susun RTBL di 3 Distrik

    Pemkab Mamteng Susun RTBL di 3 DistrikJ...

    Suara Mahasiswa


    Mahasiswa Minta Calon Bupati Mamteng Saling Mendukung

    Mahasiswa Minta Calon Bupati Mamteng Sa...

    Kesehatan


    Mamberamo Menjanjikan Tapi Butuh Perhatian

    Mamberamo Menjanjikan Tapi Butuh Perhat...

    Pemerintahan


    Bupati Mamteng: PNS Harus Mengabdi dan Melayani Rakyat

    Bupati Mamteng: PNS Harus Mengabdi dan ...

    Politik


    Akhirnya Mamteng Miliki Bupati Defenitif

    Akhirnya Mamteng Miliki Bupati Defeniti...

    Radar Walak : Sudah Saatnya Suku Walak Dimekarkan

    Sudah Saatnya Suku Walak Dimekarkan


    http://www.hmpw-sejayapura.blogspot.com/
    JAYAPURA - Kepala Suku Walak, Petrus Mabel, S.Pd., M.Si., mengatakan, sudah saatnya wilayah Suku Walak dimekarkan menjadi satu daerah otonom baru, karena telah memenuhi syarat. Dorongan pemekaran itu telah mencuat dari masyarakat Suku Walak, yang dicetuskan 800 lebih Kaum Perempuan Asal Suku Walak dan disampaikan dalam Seminar Pemberdayaan Perempuan Suku Walak di Aula Pertanian Yahim Sentani, 31 Oktober 2013.

    Acara ini dihadiri langsung Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.I.P., M.H.
    Dalam sambutan Gubernur Lukas Enembe, S.I.P., M.H., menyatakan, menerima usulan pemekaran wilayah Suku Walak tersebut, namun, Gubernur Lukas Enembe menyarankan untuk mengikuti mekanisme dan prosedur yang ada, guna aspirasi itu dijawab dengan baik. Dan tentunya selaku kaum intelektual Suku Walak berupaya untuk melaksanakan saran Gubernur Lukas Enembe tersebut.

    Suku Walak sendiri berada pada posisi tengah suku-suku lain di wilayah Pegunungan Tengah. Pada bagian Timur Suku Yali, bagian barat Suku Lany, bagian utara Suku Gem, dan bagian Selatan Suku Nayak. Meski Suku Walak adalah Suku Kecil, namun mempunyai wilayah yang cukup luas yang terbagi dalam wilayah Balima, Wolo, Iluga, dan Winamaregean di Jayawijaya dan Mamberamo Tengah. Dan suku-suku tersebut sudah menjadi kabupaten sendiri, sedangkan Suku Walak belum, dan ini yang akan diperjuangkan pihaknya.

    “Pemekaran ini sudah lama dirindukan rakyat Suku Walak. Kriteria menjadi otonom baru, itu memenuhi syarat, wilayah luas, SDA lebih kaya dari kabupaten lain yang sudah terbentuk, SDM juga sudah tersedia, kami punya sarjana dari diploma sampai doktor, pejabat eselon juga sudah ada yang tersebar di kabupaten lain,” ungkapnya dalam keterangan persnya kepada Bintang Papua, di usai pertemuan Kepala-Kepala Suku, dan Tokoh Masyarakat Suku Walak Afresto Cafe Abepura, Minggu, (03/11).
    Terhadap hal itu, terhadap suku-suku lain di luar suku Walak, terutama yang ada di wilayah Pegunungan Tengah, diharapkan turut memberikan rekomendasi bagi berdirinya Walak menjadi Kabupaten daerah otonom baru.

    Dijelaskannya, Walak adalah nama sebuah suku yang ada di Pegunungan Papua. Walak juga disebut sebagai nama bahasa. Orang Walak memiliki 5 wilayah adat, yaitu Wilayah Badlima, Wilayah Wolo, Wilayah Ilugwa, Wilayah Eragayam. Dan secara pemerintahan orang Walak memiliki 7 distrik yang terdiri dari dua distrik di Kabupaten Mamberamo Tengah (Distrik Eragayam dan Distrik Ilugwa), dan lima distrik di Kabupaten Jayawijaya (Distrik Wolo, Distrik Bugi, Distrik Yalengga, Distrik Biri dan Distrik Koragi).
    Jumlah penduduk suku ini diperkirakan 935.000 jiwa yang tersebar di beberapa distrik pada dua kabupaten itu (Tidak termasuk mereka yang ada di Jayapura, dan Timika. Jika jumlah tersebut ditambah dengan orang Walak di Jayapura dan di Timika, maka diperkirakan 1.550 jiwa lebih).

    Ditandaskannya, dari seminar tiga hari tersebut telah melahirkan beberapa rekomendasi, yaitu rekomendasi dibidang politik, rekomendasi dibidang ekonomi dan religi serta sosial kemasyarakatan. Sehubungan dengan itu mereka juga merekomendasikan kepada perempuan Walak di Wamena sebagai basis Suku Walak untuk menyelenggarakan Seminar Perempuan Walak untuk mengejar target-target dari rekomendasi seminar perempuan Walak di Jayapura. Seminar Perempuan Walak tahun berikut akan diselenggarkan pada tahun 2014 di Wamena. Diantaranya, (1) Bidang politik, yaitu meminta rekomendasi pemekaran kabupaten baru yaitu Kabupaten Walak. (2) Bidang pendidikan: perempuan mengambil Magister maupun doctor hingga keluar negeri. (3) Bidang Ekonomi: Perempuan Walak mampu berusaha bergerak dibidang bisnis. Meminta modal kepada pemerintah untuk memulai usaha. (4) Bidang Agama: Orang Walak harus tahu sumbernya, yaitu mengandalkan Tuhan dalam segala lakunya. Tingkatkan pendidikan di bidang teologi. (5) Mereka minta pak Gubernur memberikan modal usaha kepada ibu-ibu walak yang bergerak dibidang bisnis seperti penjual pinang dan pemelihara ternak babi. (6) Meminta bapak Gubernur untuk memperhatikan beberapa kader yang memenuhi syarat untuk diterima dalam kabinetnya di provinsi Papua. Ditempat yang sama, Tokoh Masyarakat Suku Walak, Boby Siep Waga, menyampaikan, dalam seminar tersebut, dirinya melihat bahwa usulan pemekaran itu itu benar-benar rencana Tuhan, karena Gubernur turut hadir dan memberikan tanggapan yang sangat positif.

    Selain alasan pada umumnya untuk pemekaran, tapi juga alasan lain yang patut menjadi pertimbangan Gubernur Lukas Enembe bahwa banyak anak-anak suku Walak yang telah lulus sarjana mulai dari diploma sampai doktor, namun umumnya bekerja di daerah lain, dan ada pula yang melamarkan pekerjaan namun tidak diterima, sehingga dengan adanya pemekaran itu, anak-anak Suku Walak kembali mengabdi dan membangun daerahnya sendiri. Senada dengan itu, salah satu Kaum Intelektual Suku Walak lainnya, Dr. Arius Togotly, S.Pd., M.Kes., menuturkan, para intelektual, sepakat dan sangat setuju untuk Walak menjadi daerah otonom baru, dengan nama Kabupaten Walak.

    “Kami sampaikan bahwa kami sebagai akademik, dan kami ikuti sama-sama untuk menentukan wilayah ini. Saya sangat menghargai dan terima kasih kepada perempuan Walak yang mempunyai kemampuan yang menyampaikan aspirasi dan menamai kabupaten Walak ini kepada Gubernur Papua. Kaum perempuan Walak telah SDM yang luar biasa, maka saat Perempuan Walak bicara pemekaran Kabupaten Walak itu. Kami siap membangun itu,” paparnya.

    Sementara itu, Kepala Suku, Woro, Iri, dan Bugi, Darius Togotly, menegaskan, dirinya langsung dari Wamena untuk mengikuti kegiatan Seminari Perempuan Walak tersebut, dan turut memberikan dukungan penuh atas aspirasi pemekaran yang disampaikan oleh perempuan dan rakyat Suku Walak.

    Untuk itulah, dirinya mewakili ketiga suku meminta kepada Bupati Jayawijaya, dan Bupati Mamberamo Tengah, untuk memberikan rekomendasi dukungan untuk Walak dimekarkan menjadi kabupaten tersendiri.
    Hal lainnya, Tokoh Agama Suku Walak, Pdt. Edy Togotly, S.Th., berkomitmen bersama seluruh rakyat Suku Walak untuk turut memperjuangkan lahirnya kabupaten otonom baru bagi Suku Walak melalui jalur-jalur resmi yang ada sebagaimana diarahkan oleh Gubernur Lukas Enembe.

    “Kami minta dukungan dan restu dari saudara-saudara kami yang ada di Papua, karena kami punya hak yang sama, karena kami penuhi persyaratan, dan itu sudah ada. Kami sudah punya pegangan kuat, karena aspirasi kami sudah diterima oleh Gubernur Lukas Enembe, maka kami akan lakukan pertemuan berikutnya untuk membahas tahapan-tahapan yang kami lakukan untuk perjuangkan kabupaten Walak ini menjadi kabupaten otonom baru. Kami percaya Walak diberikan Tuhan kepada kami,” pungkasnya.

    Sekadar diketahui, dalam kegiatan Seminar lalu, ada sejumlah hal yang dilaksanakan, yakni, pameran kreaktivitas orang Walak, seperti noken Papua, berbagai jenis bunga dan pot bunga, wig dan 6 judul buku yang ditulis oleh beberapa orang Walak seperti buku Fonologi bahasa Walak, Kutuk atau Berkat, Otsus Papua tidak Jelas dalam implementasinya.(nls/don/l03/@dv) 

    Sumber Berita : Bintang Papua

    HMPW News : Gubernur Papua Lukas Enembe, SIP.MH, merestui pemekaran Kabupaten baru atau Daerah Otonom Baru di daerah Lingkungan Keluarga Suku Walak

    Gubernur Papua Lukas Enembe, SIP.MH, merestui pemekaran Kabupaten baru atau Daerah Otonom Baru di daerah Lingkungan Keluarga Suku Walak


    Pemekaran Kabupaten WALAK Papua
    Akhirnya Gubernur Papua Lukas Enembe, SIP.MH, merestui pemekaran Kabupaten baru atau Daerah Otonom Baru di daerah Lingkungan Keluarga Suku Walak. Menurutnya pemekaran Kabupaten adalah hal penting yang harus dipikirkan bersama antara pemerintah Daerah dengan masyarakt, sebab pemekaran pada hakekadnya untuk memperpendek pelayanan pembangunan publik terhadap masyarakat . lebih khusus suku Walak itu sendiri harus mulai pikirkan dari sekarang, bagiamana suku2 lain atau darah keliling suku Walak banyak yang mau memekarkan, seenarnya di Daerah walak harus ada satu Kabupaten sebab dilihat dari geografisnya, walak wajar/layak sebuah Kabupaten baru yang akan menjadi panutan jati diri orang Walak disitu.

    Gubernur Papua memberikan kesempatan kepada Tim pemekaran untuk mengejar ketertinggalan perlengkapan administrasi pemekaran untuk seegerah melengkapi. Thanks kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Atas kasih dan kemurahannya, karena semuanya terjadi bukan karena kelebihan Timm, Kehebatan Tim, kepintaran Tim tapi semata-mata hanya oleh karena kasih dan Kemurhan Tuhan itu sendiri, waa...waa...waa..waaa..

    Cabuli Tahanan Wanita, Tiga Anggota Polresta Dituntut 3 Bulan

    Cabuli  Tahanan Wanita, Tiga Anggota Polresta Dituntut 3 Bulan


    JAYAPURA - Masih ingat dengan kasus dugaan cabul yang dilakukan tiga oknum anggota Polres Kota Jayapura terhadap seorang tahanan wanita?  Ya, kasus yang sempat heboh  beberapa waktu lalu ini kini sudah memasuki tahap penuntutan.
    DImana tiga terdakwa oknum Polisi Polresta Jayapura Kota, yakni Bripda SC (26), Serda SM dan Bripda LA masing-masing dituntut 3 bulan penjara. Mereka dituduh melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban sebut saja namanya Melati (nama samara) yang merupakan tahanan pada Polresta Jayapura.
    Kasus tindak pidana pencabulan ini terjadi Bulan Desember 2010 s/d Bulan Januari 2011 yakni antara Pukul 05.00 WIT pada 13 Desember 2010, 15 November 2010 dan bulan Januari 2011, di ruang tahanan Mapolresta Jayapura Kota, telah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban.
    Berawal saat terdakwa I yakni Bripda SC (26) sedang piket jaga malam, terdakwa datang menghampiri korban di ruang tahanan yang langsung memegang tangan dan paha korban, saat itu juga terdakwa mengeluarkan ‘mr X’ sambil berkata, aku sudah mau tumpah dan langsung menyuruh korban untuk memegang kemaluannya dan langsung menumpahkannya di asbak rokok. Begitu pun juga oleh terdakwa II Serda SM dan terdakwa III, Bripda LA saat melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban pada sedang piket jaga malam.

    NAMA-NAMA ILAHI DALAM KITAB SUCI

    NAMA-NAMA ILAHI DALAM KITAB SUCI
    Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tanggal 21 Oktober 2010 di Jayapura, Papua menggelar Seminar Sehari yang bertajuk: “Nama-nama Ilahi dalam Kitab Suci”, dengan menghadirkan 2 orang pembicara dari Departemen Penerjemahan LAI yakni: Pdt. Dr. Anwar Tjen dan  Bpk. Perry Katopo, M.Th.seminar_1.jpg
    Seminar yang digelar di Gedung Serba Guna Walikota Jayapura dibuka oleh Asisten II Walikota Jayapura dan disaksikan oleh Sekum LAI, Duta Pranowo, MBA., dan  dihadiri ratusan peserta yang berasal dari berbagai denominasi Gereja di Jayapura. Bahkan, tak sedikit pula peserta yang datang dari berbagai kabupaten di Papua, meski harus mengarungi lautan selama 2 hari menggunakan kapal laut. Ini membuktikan betapa tema penggunaan nama Allah dalam kitab suci telah menjadi isu hangat di tengah-tengah kehidupan jemaat.
    Narasumber pertama siang itu ialah Bpk Perry Katopo. Dalam makalahnya Ia mengulas secara mendalam tentang asal usul penggunaan nama YHWH dalam Alkitab yang oleh LAI diterjemahkan TUHAN. Selama lebih kurang 20 menit, pak Perry membacakan makalahnya secara teratur dan mendalam disertai penjelasan-penjelasan sehingga memberi  pencerahan kepada para peserta yang hadir.


    Selepas pemaparan Pak Kattopo, Pdt, Dr. Anwar Tjen  sebagai narasumber kedua pun tampil menguraikan  kata El, Eloah dan Elohim dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan oleh LAI  menggunakan  kata Allah. Dengan gayanya yang energik serta fasih, membuat suasana seminar saat itu semakin semangat. Pdt Anwar Tjen secara sistematis dan mendalam menguraikan hal-hal yang menjadi pertimbangan LAI, sehingga menggunakan kata Allah dalam Alkitab untuk menunjuk pada Yang Maha Tinggi. seminar.jpg
    Meski pemaparan yang diberikan kedua narasumber siang itu sangat jelas, namun ada beberapa peserta yang tidak puas. Walaupun ruang sesi tanya jawab berlangsung panas karena pro dan kontra diantara para peserta, namun semuanya bisa berjalan baik serta lancar. Dan di akhir seminar tersebut, para narasumber berkesimpulan, bahwa penggunaan kata TUHAN dan ALLAH dalam Alkitab terjemahan LAI untuk menunjuk pada Sang Ilahi adalah tepat dan bukan sesuatu yang mesti dipersoalkan oleh umat Kristen di Indonesia, khususnya di tanah Papua.
    Kesimpulan seminar sehari saat itu memang tak lantas mampu menyelesaikan persoalan penggunaan kata Allah dalam kehidupan jemaat. Tantangan Gereja pasti semakin berat dalam arus informasi yang semakin terbuka ini. Namun paling tidak, LAI telah membuat langkah awal yang selanjutnya akan diteruskan oleh Gereja-gereja di Tanah Papua.
    Pada sisi lain, Seminar sehari yang diselenggarakan LAI di Jayapura membuktikan betapa jemaat Tuhan di Tanah Papua membutuhkan pengajaran-pengajaran bermutu guna menjawab berbagai pergumulan teologi yang dialami oleh Gereja Tuhan. Semoga apa yang dibuat oleh LAI ini dapat menjadi agenda tahunan yang bukan saja bertujuan memberi pencerahan bagi warga Gereja, tetapi juga semakin mendekatkan LAI dengan jemaat Tuhan di Tanah Papua. [RG]

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    Tari Ambiaro dari Papua (Suku Walak)

    TARI Ambiaro adalah kesenian khas suku Walak, Papua. Dibawakan oleh 24 penari, terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan, tari ini mengisahkan perjalanan nenek moyang orang Papua, dari Yunan, di daratan Asia, hingga mencapai Pulau Papua.

    Perjalanan i(u dimulai dari Yunan, di daratan Asia, melintasi Taiwan, Filipina, dan Lautan Pasifik sampai akhirnya tiba di Papua Nugini. Dari wilayah inilah, para leluhur melintas ke arah barat hingga tiba di Pulau Ifala. Mereka selanjutnya meneruskan perjalanan ke Genyem.

    Dari Genyem, leluhur orang Papua satu per satu menyebar ke berbagai tempat, yang melahirkan sekitar 252 suku di Tanah Papua, saat ini.
    "Tari Ambiaro mengajak semua suku untuk membangun Papua Baru. Tari ini mengingat-kan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang dan satu keturunan serta satu perjalanan sejarah," kata Petrus Mabel, seniman suku Walak.
    Saat membawakan tari Ambiaro, para penari suku Walak juga melakonkan pembuatan api dengan cara menggesek batu dan kayu serta alang-alang kering (tenggan). Ini sesuai dengan yang diperbuat para leluhur mereka di masa lampau.
    Saat ini, jumlah anggota suku Walak mencapai lebih dari 30 ribu jiwa.
    Mereka mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya, Mam-beramo Tengah, dan Kabupaten Yalimo.
    Warga suku ini mendiami Lembah Kobakma, Ilugwa, Erageam, Wolo, dan Yalengga di pinggir Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terbesar di Papua. (Ant/N-2)
     
     photo 10157336_236740293197660_4426391203945210162_n_zps38b20ecb.jpg
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif