Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
Hendaklah kamu sepikir, sehati, sejiwa, satu dalam kasih ::>>Voice of Walak Student ::>> Naor Lano. Diberdayakan oleh Blogger.

    Reggae is My Life

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    One People One Soul

    Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

    Musisi, Penyanyi dan Group Band Musik Indonesia: Tidak Kreatif dan Tidak Berkualitas!

    Musisi, Penyanyi dan Group Band Zaman Sekarang vs Musisi Zaman Dulu, Lebih Hebat Mana?
    Penulis: Watikam Crew
    Editor : Kilungga Tabuni


    Sekitar tahun 80-an sampe tahun 2006 dulu, menurut saya musik Indonesia bener-bener lagi merajai musik tanah air. Bagaimana tidak ? dulu itu musisi Indonesia jempolan banget ! Sejak tahun 80-an kita udah sering dengarkan yang namanya musik dari negara tetangga (Malaysia) bisa dengan mudahnya masuk ke Indonesia ? saya demen sekali sama yang namanya Iwan Fals, Ebiet G Ade, Nike Ardilah, Black Sweet, Ratih Purwasih, Ari Wibowo, Gomboh, Netty, Gloria Trio, Black Brothers dan lain sebagainya menurut saya mereka berkualitas karena mereka lebih memperhatikan musikalitas yang mereka sajikan buat penikmatnya. Bukannya dandanan yang menor, penampilan, kaca mata, atau whatever lah gaya artis jaman sekarang tuh.

    Mungkin anda semua para pembaca pasti ngeremehin saya. “Saya ini kan cuma anak jalanan yang sekarang baru ingin belajari perjalanan musik tanah air, tau apa tentang Tembang Kenangan SEARCH ? Mereka juga bisa dibilang cukup menyenangi lagu lawas dibanding lagu jaman sekarang. Walaupun saya masih orang awam begini, tapi jujur sekali tidak tertarik tuh sama musik jaman sekarang ! tidak berkualitas ! dan tidak kreatif ! justru saya cinta sekali sama lagu-lagu lawas. Di handphone saya aja ada 200-an lebih lagu lawas, dan cuma ada sekitar 3 lagu saat ini, dan gua sangat menikmati itu.
      
    Overall, apa ya ? sebenarnya yang bikin saya  jatuh cinta sama lagu lawas itu apa ya ? Saya tahu, tapi saya bingung menjelaskannya. Gini lho, saya itu memandang seorang penyanyi solo ataupun band ketika perform itu dari segi lirik dan aransemen lagunya. Kalo untuk lirik, saya lebih suka dengan lirik lagu lawas, karena bahasa liriknya itu masih puisi banget gitu lho, ibaratnya, susah buat kita mengerti tapi enak ketika dinyanyikan. Contohnya, ada potongan lirik lagu Ebiet G. Ade, yang bunyinya, TANYAKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG. Honestly, dari gua kecil ampe sekarang saya kelas 3 SMA pun gua belom tau maksudnya apa ? kan puisi banget. Dan itu semua cuma made in lagu lawas ! That’s the reason why i really love with lagu lawas. Kalo untuk arransemen musiknya, gua lebih bingung gimana cara ngejelasinnya, karena saya bukan orang yang berkecimpung di dunia seni musik. Mendingan kasih saya soal matematika saja dah, 7 hari 7 malem juga bakalan saya kerjakan.

    Oke, sekarang bedain aja ama lirik lagu penyanyi band atau musisi jaman sekarang. Liriknya tidak jelas sekali. Lebih frontal, tidak baku, dan tidak ada puisi-puisinya pisan itu lagu. Ada lirik yang bunyinya NYONTEK, KUHAMIL DULUAN UDAH 3 BULAN, LO GUE END, IWAK PEYEK, PACAR 5 LANGKAH, KUINGIN KAU MATI SAJA, CINTA SATU MALAM <<<<<< INI LAGU APA-APAAAAAN WOOOOOY ??????!!!!!!! NYAYUR WOOOOOY !!!!!

    Well, yang bikin saya jatuh cinta sama lagu lawas itu juga karena saya mandang mereka itu bener-bener para pekerja keras sejati. Bayangin saja, waktu jamannya mereka menuju ketenaran itu tidak mudah, bahkan sangat berliku. Tidak kayak sekarang, internet ada, tinggal ngupload video saja ke youtube, ntar kalo menarik perhatian, tinggal dipanggil produser, rekaman, tampil di acara musik, jadi artis deh. Halah…....

    Penyanyi dan group band lawas itu juga orang-orang yang lebih mementingkan musikalitas mereka dalam bermusik. Mereka tidak peduli mau rambut mereka gondrong kek, badan mereka kurus kek, pakaian dan sepatu mereka amburadul kek yang penting lagu berkualitas, penikmat merasa terhibur, dan mereka makin dikenal publik. 

    Beda sama penyanyi dan group band atau musisi jaman sekarang yang lebih memperhatikan penampilan. Cuma nampilin dada sama paha doang  sudah kayak fried chicken. Anak band-nya juga pada sok ganteng banget. Sok pake kacamata hitam, rambut digaya-gayain, pokoknya kata dia sih, itu sudah gaya yang paling keren. Sudah jelek mah jelek aja mas, takdir sampean itu. Eh… tidak taunya lagu mereka tidak laku di pasaran. Saya sih cukup malas nontonnya. Mending nonton berita dah. "Kata orang Jawa dan Sunda".

    Oke, setelah segi penampilan diri, sekarang saya mau bahas tentang penampilan pas mereka tampil di panggung. Seorang penyanyi papan atas ataupun group band papan atas yang menjunjung tinggi professionalitas, pasti mereka tampil dengan suara asli (bukan lipsync), band-nya juga tampil live (bukan karokean). Beda ama penyanyi/group band sekarang. Gaya sok ganteng, dan sok cantik bermodalkan paha dada kayak fried chicken, tapi NYANYI LIPSYNC ! sorry, itu gak banget buat gua ! "Kata orang Betawi"

    Sesama melayu-sunda, Jawa, Madura, Betawi, saja bisa bilang begitu apa lagi coba Anda tanya pendapat suku bangsa orang-orang melanesia di indonesia seperti Flores, Maluku, dan Papua ??? Apakah semua lirik lagu dan irama musik yang dinyanyikan oleh musisi dan penyanyi, dan group band artis papan atas indonesia apakah sesua selerah atau gaya hidup budaya mereka ? Sangat tidak bermutu dan tidak berprofesional bagi mereka. Mereka lebih suka dengan artis lekal di daerahnya ketimbang artis ibu kota.

    Oke, sekarang kita menilai dari sisi penonton yang menikmati. Kalo lagu lawas, penontonnya itu hadir dari kalangan elite, orang-orang kaya yang sepertinya sedang jenuh dengan rutinitas sehari-hari dan melampiaskan dengan cara nonton konser para musisi, penyanyi, group band lawas. Saya sih bukan sok tau, saya bisa berbicara seperti ini, karena saya penonton setia HARMONI - SCTV, sama acara baru DELUXE SYMPHONY - METRO TV yang isinya itu menyajikan lagu-lagu yang hits di jaman dulu, tapi dinyanyikan dengan penyanyi yang berkualitas di acara tersebut. Acara itu emang bener-bener hiburan buat para pecinta lagu lawas sejati. Kapan lagi ngedengerin lagu-lagu lawas nan mantap itu kalo tidak ada acara itu ?

    Oke, back to the topic. Belom lama juga gua ngeliat konser MAHAKARYA AHMAD DHANI bersama Ari Lasso, Once, Dewa 19, Afgan dan pengisi acara lainnya di RCTI. Begitu disorot penontonnya oleh kamera, Yassalaaaaam….. pakainannya tuh intelek banget. Mereka itu masih pada pake kemeja kantornya masing-masing. Yang perempuan juga sama, pakaian kantor ala perempuan gimana sih… ya begitulah. Pokoknya seisi JCC itu penuh dari ujung ke ujung cuma buat lihat Dewa 19 sama Ari Lasso, Afgan dan Once. Asli, penontonnya tuh tidak rusuh. Mereka ngefans, tapi tidak alay. Idolanya nyanyi, ya sudah mereka biasa saja. Yang hafal lagunya ikutan nyanyi, yang tidak hafal cuma diem saja. Ada juga yang ngerekam pake IPAD, saking inteleknya.

    Bandingankan sama penonton sekarang yang suka dateng di acara penyanyi atau group band jaman sekarang. Penontonnya tuh tidak ada intelek-inteleknya juga. Terkesan alay dan ujung-ujungnya itu pasti rusuh. Menurut mereka sih, mereka itu anak gaul. Roman-romannya gaul sama alay beda-beda tipis. Banyak dari mereka itu anak-anak ABG labil (ababil) yang kalo nonton konser band yang nge-rock, pasti gaya mereka angguk-anggukan tidak jelas. Yang ada kutu pada loncat kemana-mana.

    Well, gua cuma mau bilang sama semua musisi lawas idola saya. Please, balikin musik Indonesia kayak dulu. Buat kami bisa menikmati hasil karya indah kalian lagi. Cuma kalian yang terbaik dan terhebat sepanjang masa akan kami kenang selamanya.


    Anyway, sebagai penutup…
    Bagi kita sebagai penikmat musik, coba posisikan diri kita sebagai musisi. Sebaiknya tak perlu terlalu mudah mencap plagiat pada musisi. Kita mungkin beranggapan bahwa menciptakan lagu/karya yang original itu mudah. Tapi kita mungkin tak pernah merasakan betapa sulitnya menciptakan karya baru yang benar-benar fresh atau tidak punya kesamaan sedikit pun dengan karya yang sudah ada.

    Kalaupun bisa, tantangan berat selanjutnya adalah bagaimana agar karya tersebut bisa enak untuk didengarkan atau bisa disukai oleh penikmat musik. Pertanyaan saya, memangnya Anda mampu ya menghasilkan karya musik yang 100% original dan sekaligus enak didengar? Kalau Anda suka menuntut orang lain untuk menghasilkan karya yang original, Anda pun harusnya bebas dari unsur plagiat.

    Memangnya bisa ya?

    Source : Dari Berbagai Sumber

    ZAMAN INI MENUNTUT MAHASISWA MENULIS

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua

    Oleh Topilus B. Tebai #

    Bastian Tebai (foto Pdibadi fb)


    Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
    “Ah, sob, sa trada bakat di bagian situ jadi, kamu lanjutkan saja,” kata Mikha (bukan nama sebenarnya). 
     
    “Tra menulis juga kita hidup moo. Jangan saling paksa untuk menulis. Semua mahasiswa to, jadi atur masing-masing,” begitu komentar Jack (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah diskusi soal tulis menulis.
     
    “Kita itu bukan butuh orang yang jago tulis-tulis di media massa. Kita itu butuh orang yang kerja di lapangan, turun ke jalan,” kata seorang aktivis ketika seorang rekan mengajak penjelasan lisannya dituliskan dalam bentuk tulisan untuk ditawarkan kepada media-media online agar dibaca publik.
     
    “Mantap. Tingkatkan adik-adik.” Itu saja komentarnya ketika ditawari membeli sebuah majalah yang dibuat oleh anak-anak Papua di tanah rantau dua hari yang lalu. Kakak itu bahkan tidak punya gairah untuk membeli. Jangankan membeli, membuka lembar demi lembar, sekedar untuk melihat pun tidak. Cover luar mungkin sudah cukup baginya.
     
    Potongan-potongan dialog di atas saya kira telah mewakili sebagian kecil dari gambaran realita hidup mahasiswa Papua ketika bersentuhan dengan kalimat ‘tulis menulis’. 
     
    ***
    Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
     
    Mahasiswa Papua cenderung lebih suka membagi masalah-masalah hak asasi manusia seperti pelanggaran HAM di Papua, mengenai Persipura dan sepakbola, dan mengenai kekayaan alam Papua dan eksploitasinya.
     
    Banyak mahasiswa Papua yang memaki, marah atas kekeliruan penulisan dan perekayasaan fakta di media-media nasional atas peristiwa-peristiwa -terutama yang bersentuhan dengan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri- yang terjadi di tanah Papua. Mahasiswa marah karena tahu, fakta yang terjadi tidak seperti yang ditulis sang penulis. 
     
    Di beberapa tulisan yang dibuat oleh anak muda Papua, banyak dari kita yang terlihat cukup pandai dengan memberi komentar mengenai apa yang ditulis. 
    Beberapa dari kita merasa ‘nyaman’ dengan cukup menunggu artikel dan berita yang dihasilkan beberapa media online untuk kemudian dicopy paste ke blog milik pribadi dengan atau tanpa menyertakan sumber. Dari blognya, kemudian artikel itu dibagikan kepada publik melalui facebook dan twitter.
     
    Di majalahselangkah.com misalnya, beberapa mahasiswa Papua mengirim tulisan yang cukup ‘wah‘. Setelah dilacak melalui internet, banyak tulisan yang ternyata adalah hasil copy paste karya orang lain. Ini plagiat. Bisa kena hukuman karena melanggar hukum.
     
    Beberapa dari kita sibuk mengambil potongan-potongan kalimat dari beberapa tokoh orang Papua dan dibagikannya kepada publik, tanpa menilai dahulu apakah kalimat yang terucap dari sang tokoh masih relevan untuk dikonsumsi publik, cenderung ambigu bila dipotong dan disendirikan, sehingga apakah bertentangan atau tidak dengan eksistensi dan pendirian sang tokoh di tengah gejolak sosial politik ekonomi di Papua. Ini sepele, tetapi dapat mengubah mindset publik soal elektabilitas tokoh.
     
    Sementara yang lain bahkan fokus hanya untuk kuliah. Hidup selama minimal 4 tahun kuliah hanya diabdikan untuk ke kampus, belajar, tidur dan makan, sehingga akhirnya lupa diri dengan tugasnya sebagai mahasiswa, menjalankan aspek lainnya dari Tri Dharma Mahasiswa.
    ***
    Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
     
    Tugas mahasiswa Papua adalah mengarahkan perubahan itu ke arah yang baik. Menentukan arah yang baik dan yang tidak baik yang harus dijauhi juga adalah tugas mahasiswa. Mahasiswa bertugas mengobarkan api demokrasi dengan menjadi corong suara rakyat.
     
    Saluran untuk itu semua yang paling baik adalah menulis. Dengan menulis, ide-ide konstruktif kita akan dikonsumsi publik, kritik dan pendapat kita akan mengawal pembangunan, tulisan kita menjadi corong suara rakyat. Mahasiswa mesti mengkritisi sistem dan birokrat yang kapitalistik dan cenderung pro pusat dan pemodal- bila itu memang terjadi.
     
    Mahasiswa harus bangun dan mulai mengisi ruang-ruang yang disediakan media-media milik orang Papua dengan menulis. Mahasiswa harus sadar diri dan meningkatkan minat baca dan tulis. 
     
    Dan satu lagi, mahasiswa dituntut untuk sadar bahwa menulis itu proses, bukan bakat. Meminjam kalimat Yermias Degey, “Tak ada seorang ibu di dunia ini yang melahirkan seorang penulis”.
     
    Mahasiswa dituntut sadar diri dengan statusnya sebagai mahasiswa, untuk kegiatan copy paste berita dan atau artikel dan posting ke blog pribadi karena hanya akan menjadi pupuk penyubur budaya malas tulis dan instan. Mahasiswa Papua dituntut menulis sendiri, dan tidak plagiat.
     
    Mahasiswa Papua sebagai kaum terdidik mesti bangkit mendidik rakyat dengan menganalisa kondisi terkini dan ramalan akan hari esok, dan menyampaikannya dalam bentuk penyampaian lisan dan tertulis yang enak diterima. 
     
    Ini semua tugas kita, karena kita mahasiswa Papua sebenarnya punya kewajiban menjalankan jawaban dari pertanyaan ini: “Ingin dibawa kemana Papua ini?”
    ***
    Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca. 
     
    Bagaimana menulis? Banyak buku dan sumber yang dapat menjadi rujukan mahasiswa. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah kemauan dan tekad.
    Sudah saatnya kita dengan tegas mengatakan akan menegur para penulis berita dan artikel di media nasional yang menulis berita yang kita pikir direkayasa itu dengan menyajikan yang sebenarnya terjadi, dan bukan lagi dengan mengomentari singkat dan memaki di facebook dan twitter. 
     
    Ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Jika umurmu tidak sepanjang umur bumi, sambunglah dengan tulisan”. Sejarah bangsa harus lahir dan diukir dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.
     
    Ini kata-kata Adolf Hitler, pimpinan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, “Saya tidak takut pada ujung senjata. Saya hanya takut pada ujung pena.”
    Topilus B. Tebai, Mahasiswa Papua, Penulis di majalahselangkah.com.
    Sumber : http://majalahselangkah.com/content/zaman-menuntut-mahasiswa-menuli

    Besok, Novelis Pertama Perempuan Papua Akan Tour ke Kampus Uncen

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua


    Aprilla R.A Wayar saat menunjukkan dua karyanya. Foto: Ist .

    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Novelis pertama perempuan Papua, Aprilla R.A Wayar  mengatakan, pihaknya akan melakukan tour ke beberapa kampus di kota Jayapura untuk melihat antusiasme mahasiswa, diskusi dan mengenalkan dua novel karyanya berjudul "Mawar Hitam Tanpa Akar" dan "Dua Perempuan".

    "Besok, Senin (31/03/2014) saya akan tour ke Uncen (Universitas Cenderawasih:red). Saya ingin melihat antusiasme mahasiswa Papua terhadap karya sastra sekaligus diskusi dan mengenalkan dua karya saya," tuturnya kepada majalahselangkah.com di Jayapura, Minggu (30/03/2014)

    Setelah di Uncen, pada Rabu (02/04/2014) mendatang, Aprila akan melakukan perjalanan yang sama ke kampus STIKOM Muhammadiyah Jayapura. Selanjutkan akan dilakukan ke beberapa kampus, tetapi jadwal tour belum ditentukan.

    "Saya berharap ada hubungan kerja sama yang dibangun oleh kampus-kampus yang berada di kota Jayapura bersama saya dan beberapa teman-teman penulis buku agar generasi muda khususnya generasi muda Papua benar-benar mulai menulis tentang apa yang mereka lihat dan rasakan di atas Tanah ini," harap wartawati di tabloidjubi.com itu. 

    Diketahui, karya pertama, "Mawar Hitam Tanpa Akar" Aprilia berhasil mengulas kisah keluarga muda kelas menengah Jayapura dengan segala dinamika kehidupan, mulai dari percintaan sampai kaitan-kaitan dengan persoalan-persoalan politik yang dialami masyarakat Papua.

    Sedangkan pada novel berjudul "Dua Perempuan" ia mengulas tentang kisah cinta Pemuda Papua dengan gadis Timor Leste dan budaya patriarkhi di Papua. (Theresia F. Tekege/MS)
    Editor : Yermias Degei

    Dialog Jakarta-Papua : “Tidak Perlu Lagi !”

    Dialog Jakarta-Papua : “Tidak Perlu Lagi !”

    lukasenembe1
    Wacana dialog Jakarta-Papua yang diharapkan oleh masyarakat Papua yang digagas oleh Jaringan Damai Papua atau sering disingkat JDP hingga saat ini tidak pernah terwujud. Banyak hal yang hingga saat ini menghambat dilaksanakannya dialog Jakarta-Papua, selain Papua masih bagian integral NKRI, sang inisiator dan koordinator JDP Muridan S.W yang juga merupakan pengamat dari LIPI disalah satu forum diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa Papua hingga saat ini belum siap jika memang akan dilakukan dialog, karena hingga saat ini Papua tidak mempunyai seorang tokoh pemimpin yang disegani oleh seluruh lapisan masyarakat dari Sorong sampai Merauke.

    Dalam perkembangannya berbeda dengan pemikiran sang pengamat dari LIPI, seorang tokoh asli Papua Lukas Enembe justru menolak dilaksanakannya dialog Jakarta-Papua. Tepatnya pada tanggal 18 April 2013 di Jayapura, Gubernur Papua yang baru Lukas Enembe mengatakan, Tuntutan dialog Jakarta-Papua yang diingi-nkan rakyat Papua terhadap pe¬merintah pusat saat ini sudah tidak diperlukan lagi, namun yang terpenting, bagaimana pemerintah pusat dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Papua. “Istilah dialog untuk membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat sepertinya tidak cocok. Oleh karena itu, diperlukan penyebutan lain, seperti duduk bersama atau bicara di para-para” tegasnya.

    Salah satu bukti Papua akan aman dan damai dalam pembangunan tanpa bayang-bayang kekrasan yang dilakukan oleh TPN OPM, pihak Goliat Tabuni sebagai Panglima TPN OPM telah meneleponnya dan mengatakan bahwa Goliat dan pasukannya akan ikut mendukung dirinya membangun masyarakat Papua. Atas keinginan TPN-OPM yang ingin kembali ke masyarakat, sebagai gubernur dirinya akan memfasilitasi mereka untuk usaha, agar mereka bisa hidup layak seperti masyarakat umum.

    Sementara, Ketua Komisi A Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Prov. Papua, Ruben Magai mengatakan, tetap kukuh agar ‘dialog Jakarta-Papua’ karena telah disusun dalam draft dan persoalannya telah dibahas. Saat ini, tinggal bagaimana pemerintah pusat merespon tentang dialog Papua-Jakarta tersebut. Apabila draft atau tema yang ditawarkan JDP dapat disandingkan dengan konsep dan pikiran pemerintah pusat, baru dapat dilakukan dialog.

    Namun sebagai anak bangsa, pernyataan Lukas Enembe sebagai pemimpin Rakyat Papua yang dipilih secara demokrasi harus tetap dihormati. Papua sebenarnya belum siap kalau memang dilakukan dialog seperti pernyataan pengapat LIPI. Jika menilik pernyataan pengamat LIPI tersebut, beberapa tokoh masyarakat yakin bahwa apa yang disampaikan oleh pemimpin baru masyarakat Papua Lukas Enembe sangat tepat bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan Papua. Duduk bersama dan berbicara di para-para adat lebih tepat dan bernuansa damai dibandingkan dialog Jakarta-Papua. Jadi tidak perlu lagi dialog Jakarta-Papua yang dipastikan akan merugikan waktu, tenaga serta pikiran rakyat Papua seperti yang disampaikan Gubernur Papua. Duduk bersama dan berbicara di para-para adat akan lebih damai dan bermartabat.

    Walak merupakan salah satu sub suku bangsa dari Bangsa Papua terutama suku-suku Koteka (Koteka Tribal People)

    SUKU WALAK ADALAH PENJAGA DAN AHLI WARIS TAMAN FIRDAUS ALLAH DI PAPUA SEBAGAI TAMAN EDEN
     (Mr.DolumanggenPigay)

    Walak merupakan salah satu sub suku bangsa dari Bangsa Papua terutama suku-suku Koteka (Koteka Tribal People) sebagai Suku Prib...umi Pewaris Tanah Sorga di Bumi yang ditempatkan TUHAN di Kawasan Pegunungan Tengah Papua, yang mana secara ekstensional kini mendiami Bumi Balim sebagai Tanah Leluhur Suku-Suku Bangsa Pribumi Papua.
     
    Dalam konteks prahistor is bangsa Papua, maka sesungguhnya Suku Walak menempati suatu Wilayah yang pernah dijadikan Ajang Perjamuan Minum dan Makan Sang Raja Damai dalam Kisah Mitos Suci Bangsa Papua (tepatnya Bolakme dan sekitarnya). Itulah Kebenaran WENE ASLI Bangsa Papua (hingga kini masih dibungkam tabirnya) yang terjadi pada Zaman Kehadiran SANG KOYEIDABA / KORERI / KOWEI – Raja Damai. Jadi Wilayah Iluga Wolo seringkali disingkat IWO atau IWEK – adalah Situs Sejarah Bangsa Papua yang telah mana dihapuskan ketika Missionaris Masuk ke Tanah Papua–melalui Wissel (Enarotali) akhir tahun 1930 dan menyebar hingga ke daratan Kawasan Pegunungan Tengah Papua–dalam Wilayah Central bergland Ondeerafdeeling (Pemerintahan Kerjaan Belanda)–yang kerapkali disebut–Middle New Guinea (Paniai–Oksibil) dalam peta politik Pemerintmahan Kerajaan Belanda di Tanah Papua.
    Bangsa Papua–termasuk di dalamnya Sub Suku Bangsa WALAK–merupakan Suatu Suku Bangsa Yang Besar sebagai suku–suku Bangsa yang dipercayakan dan diberikan Hak dan Mandat Otoritas langsung oleh UGATAME (bahasa Mee, Orang yang menciptakan/Melukis Dunia dan Manusia atau cosmos).
    Mandat dan Otoritas Allah ini diberikan dengan pelimpahan kewenangan untuk menjaga Cuplikan Tanah Sorga yang mana dibawa kabur ALLAH dari Taman Suci Allah yang secara geografis adalah Negara IRAK (Di Timur Tengah) yang dahulunya disebut PERSIA–karena pelanggaran Konstitusi Taman Eden. Irak dan Timur Tengah (Termasuk Tanah Suci Mekkah) adalah manipulasi suku-suku Persia dan bangsa – bangsa Barat dengan target mencari kekayaan ALLAH dengan memanfaatkan Kerajaan Allah di Timur Tengah untuk mencari devisa Negara. Semua itu Omong kosong. ISLAM atau KRISTEN adalah hasil rekayasa budaya barat dalam rangka mencari EMAS, KEMENYAN dan MUR dalam TOPENG Agama – Glory, Gospel dan Gold. TAPI Firman Allah atau SUARA ALLAH – itu benar karena ALLAH itu ROH dan KEBENARAN–Bukan Tukang TIPU dan Tukang CURI seperti bangsa–bangsa Eropah dan TimurTengah.

    Sorga bukan ada di Timur Tengah atau Tanah Mesir sana lagi. Sorga sudah dipindahkan Ugatame di Tanah ini. Tanah Papua adalah Tanah Suci. Bukan MEKKAH atau YERUSALEM bukan Tanah Suci. Disana itu adalah BEKAS TANAH SUCI yang sekarang sudah tiada lagi dan telah dipindahkan UGATAME melalui MALAIKAT KERUP (Penjaga Taman Firdaus) ketika TRAGEDI EDEN.
    Semua dilakukan bangsa–bangsa rakus dengan Kabar Baik Allah dijadikan ALAT bargainning untuk Mencuri Emas, Membunuh Bangsa Papua demi Membangun Kejayaan Negera Mereka.
    Bangsa Papua memiliki SEJARAH LURUS dan Bukan Bengkok Atas Mandat Allah Yang Transendental. Dan Sejarah Sudah Ada jauh sebelum INJIL diberitakan di Tanah ini. Bangsa Papua adalah Umat Pilihan Allah
    mmemiliki Hukum ADAT sebagai instrumen yuridis yang diberikan ALLAH untuk Menjaga Taman Firdaus Ini dari bangsa–bangsa Barat Yang Rakus

    Pranata Hukum TAURAT Bangsa Papua jauh lebih sempurna diatas segala hukum di dunia yang sudah dibukukan dan didokumentasi oleh Pusat Studi Kedaulatan dan Demokrasi Di Tanah Papua sebagai Hukum Dasar (Grond Wet) untuk menunju NEGARA TAHTA SUCI PAPUA RAYA.
    Kepadaku Bangsaku Walak di Tanah Air – Hanya kepadamu hendaknya suatu WENE bahwa: Sesungguhnya KALIAN PEWARIS DAN PENJAGA TAMAN FIRDAUS. Patuhilah Aturan Hukum Adat–sebagai Hukum Dasar Allah. Maka kamu akan bermur panjang di Tanah Sorga yang diberikan TUHAN kepada Kita sehingga kita akan menuju PAPUA RAYA dibawah Mandat Otoritas Allah Demi Kemerdekaan Bangsa Papua Raya di Tanah Papua sebagai Tanah Suci.
    Janganlah Kalian mengikuti HUKUM Bangsa IBLIS yang datang hanya mau menghancurkan KEBESARAN PANJI KERAJAAN ALLAH Di ATAS OTORITAS ADAT BANGSA PAPUA–SEBAGAI BANGSA KEPUNYAAN ALLAH PENCIPTA BUMI Dan ALAM SEMESTA PAPUA RAYA Tercinta.
    Wahai Bangsaku, Kaum Kerabatku Kenapa Bangsa Papua kamu tidak Percaya pada TUHAN dan ALAM SEMESTA di ATAS TANAH PAPUA? Bukankah Papua adalah Taman Eden? Mari Kita Membangun Bangsa yang sudah dihancurkan Missionaris, Kapitalisme Amerika dan Dominasi Kekuasaan Politik Indonesia.
    Sumber: ://merwandnews.blogspot.com/ Mr: Merwand wandikbo, Artikel pribadi http

    Komunitas Blogger Koteka (KBK) Papua

    Komunitas Blogger Koteka (KBK) Papua
    Koteka Creating Weblog
     
    Paling tidak enak jika bertemu dengan orang yang selalu memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang paliBerbicara mengenai perspektif atau sudut pandang saya jadi teringat dengan ungkapan tentang dua orang yang melihat gajah dari sisi yang berbeda, orang yang pertama melihat gajah tersebut dari depan sehingga dia akan mengatakan bahwa gajah belalainya panjang dan kupingnya lebar, namun orang yang kedua melihat gajah tersebut dari belakang sehingga dia hanya melihat ekor dan dua kaki belakng yang besar dari sang gajah, ke dua orang tersebut bisa berselisih paham tentang apa yang paling menonjol dari sang gajah tersebut padahal keduanya melihat binatang yang sama, namun masalahnya adalah dari sisi mana mereka melihat. Itulah yang saya sebut sebagai problematik dari perspektif.Sebut saja contoh kecil, rata-rata orang eropa tidak suka mencium bau buah duren, tapi coba jika anda sebagai orang Indonesia ditawari duren, apalagi duren montong, wah pasti anda akan berbutan untuk menyantapnya, karena disamping buahnya harum rasanya juga enak, itu menurut perspektif anda sebagai orang Indonesia, tidak demikian halnya bagi orang barat. Nah hal inilah yang kadang-kadang dapat menjadi problem horizontal di antara makhluk sosial yaitu sesama manusia. Tak jarang masalah perbedaan perspektif dapat menimbulkan pertikaian yang serius di antara kita manusia, karena perbedaan perspektif akan mengarah kepada perbedaan pendapat dan prinsip tiap-tiap orang. Masalahnya adalah jarang sekali orang yang mau mengalah terhadap pendapat orang lain, kecenderungan manusia adalah berargumen untuk membenarkan pendapatnya sebisa-bisanya. Hanya orang yang memiliki sifat rendah hati dan suka damai sajalah yang bersedia mengalah selama problematik perspektif tersebut hanyalah masalah yang tidak terlalu bersifat prinsipil.
     
     
    Memang ada beberapa perbedaan perspektif yang harus diselesaikan dengan suatu standard baku seperti perbedaan yang terkait dengan masalah benar atau salah, baik atau buruk, hal ini biasanya akan mengacu kepada hukum, undang-undang, prosedur dll. Misalnya perbuatan membunuh tidak bisa hanya dilihat dari segi perpektif, tapi juga harus dari segi hukum. Halnya juga berkenaan dengan kebenaran prinsipil seperti misalnya tentang dogma atau doktrin agama. Perbedaan perspektif berkenaan dengan dogma agama atau kepercayaan memang harus bermuara pada konsep dasar fundamental yaitu kitab suci dari masing-masing agama yang bersangkutan. Tetapi jika perbedaan perpektif hanyalah hal-hal yang menyangkut selera lebih baik menggunakan dasar kasih, rendah hati, suka damai, dan mengalah ketimbang ngotot untuk selalu memenangkan dan membenarkan pendapat pribadi, padahal pendapat orang belum tentu salah.ng tahu, paling benar, paling hebat dan segala jenis paling lainnya. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar dan belum tentu juga pendapat orang lain itu salah, mengapa? Karena tiap-tiap orang memiliki perspektif masing-masing sehubungan segala hal sehingga jika terjadi suatu perbedaan pendapat berkenaan dengan suatu hal tertentu biasanya lebih banyak disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang, dan dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena benar atau salah sifatnya relatif tergantung dari sudut pandang mana sebuah problem dilihat oleh tiap-tiap individu orang. Ada ungkapan lama yang mungkin pernah anda dengar “lain ladang lain pula lalangnya, lain danau lain pula ikannya” yang mengartikan bahwa tidak ada manusia yang memiliki kesamaan persis, tiap-tiap orang berbeda-beda pola berpikirnya dan sudut pandangnya. Perbedaan orang dapat ditentukan oleh berbagai latar belakang, bisa latar belakang sosial, budaya, etnis, pendidikan, pengalaman, karakter, selera, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki ciri khas fisik tertentu seperti sidik jari, bahkan konon ceritanya anak kembar sekalipun dapat berbeda selera dan sifat. Maka janganlah heran kalau anda akan sulit sekali menemukan orang lain yang persis sama dengan sifat atau karakter anda. Saya menganjurkan anda janganlah berharap untuk mendapatkan teman yang memiliki sudut pandang yang sama atau selera yang sama dengan anda.
    Created By Watikam

    Daerah Yang Ingin Memisahkan Diri dari Indonesia

    Daerah Yang Ingin Memisahkan Diri dari Indonesia

    HMPW - Indonesia adalah negeri yang kaya. Tak terhitung banyaknya Sumber Daya Alam yang ada disini. Namun ketidakmerataan kekayaan dan penindasan suatu ras membuat ada beberapa daerah yang ingin keluar dari NKRI, seperti berikut:

    1. Aceh


    Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM)



    Aceh merupakan provinsi terbarat dari Indonesia. Provinsi ini beribukota Banda Aceh dan sering disebut "Serambi Mekkah". Namun, sejak tahun 1976, Aceh menghendaki keluar dari Indonesia. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan berkewarganegaraan Swedia.lahir di desa Tiro, kabupaten Pidie, Aceh, 25 September 1925 – meninggal di Banda Aceh, 3 Juni 2010 pada umur 84 tahun. Sehari sebelum meninggal dia memperoleh status WNI oleh pemerintah Indonesia.

    2. Papua


     Bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM)

    Jika tadi kita ke ujung barat Indonesia, kini kita beralih ke ujung timur Indonesia, yaitu Papua. Pulau Papua atau Guinea Baru (Bahasa Inggris: New Guinea) atau yang dulu disebut dengan Pulau Irian adalah pulau terbesar kedua (setelah Tanah Hijau) di dunia yang terletak di sebelah utara Australia. Pulau ini dibagi menjadi dua wilayah yang bagian baratnya dikuasai oleh Indonesia dan bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. Di pulau yang bentuknya menyerupai burung rajawali ini terletak gunung tertinggi di Indonesia, yaitu Puncak Jaya (4.884 m). Namun, muncul Organisasi Papua merdeka (OPM) yang menghendaki Papua keluar dari NKRI. OPM ditengarai sering melakukan aksi kekerasan dan melakukan penyerangan bersenjata terhadap warga sipil termasuk TNI dan Polri di berbagai wilayah Papua untuk menciptakan ketidakstabilan. Pemerintah menurunkan TNI dan Polri untuk melakukan penumpasan terhadap gerombolan OPM yang sudah sangat meresahkan warga.

    3. Sulawesi


     Bendera Sulawesi Merdeka

    Sulawesi (atau sebutan lama dalam bahasa Inggris: Celebes) adalah sebuah pulau dalam wilayah Indonesia yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Kepulauan Maluku. Dengan luas wilayah sebesar 174.600 km², Sulawesi merupakan pulau terbesar ke-11 sedunia. Namun, Pulau ini sempat ingin mengeluarkan diri dari NKRI, walaupun kini tidak terdengar lagi.

    4. Maluku


    Bendera Republik Maluku Selatan (RMS)


    Bendera Republik Maluku Selatan (RMS) 2011

    Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas adalah salah satu provinsi tertua di Indonesia. Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.Pada tahun 1950, muncul gerakan Republik Maluku Selatan. Daerah ini sebenarnya sudah memerdekakan diri pada tahun 1950 dan telah mempunyai lambang, bendera dan lagu kebangsaan sendiri.


     Lambang RMS


    Naskah Proklamasi RMS

    Lagu Kebangsaan : Maluku Tanah Airku
    Maluku Tanah Airku
    Tanah tumpah darahku
    Ku berbakti kepadamu
    Selama hari hidupku
    Engkaulah Pusaka Raja
    Jang leluhur dan teguh
    Aku djundjung selamanja
    Hingga sampai adjalku
    Aku ingat terlebih
    Sedjarahmu jang pedih
    Maluku Tanah Airku
    Tanah datuk datukku
    Atas Via Dolorosa
    Engkau hidup merdeka
    Putra putri jang se djati
    Tumpah darah bagimu
    Ku bersumpah trus berbakti
    Serta tanggung nasibmu
    Aku lindung terlebih
    Sedjarahmu jang pedih
    Mena Muria printah leluhur
    Segnap djiwaku seru
    Bersegralah membelamu
    Sepri laskar jang djudjur
    Dengan prisai dan imanku
    Bahkan harap jang teguh
    Ku berkurban dan berasa
    Karna dikau ibuku
    Ku doakan terlebih
    Mena Muria hiduplah

    RMS juga telah memiliki website, yaitu republikmalukuselatan.nl

    5. Riau


    Bendera Riau Merdeka

    Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau Sumatera. Provinsi ini termasuk salah satu provinsi makmur di Indonesia, dengan gross regional product per kapita sebesar USD 7.886 (2008). Riau pernah ingin melepaskan diri dari NKRI, namun kini tak pernah terdengar lagi.

    6. Bali

    Bendera Gerakan Bali Merdeka (GBM)

    Yang terakhir adalah Bali. Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Seruan Bali untuk melepaskan diri dari NKRI sebenarnya sudah terjadi pada zaman Soeharto, namun baru sekarang mencuat kembali karena terjadi bentrok di Lampung antara Kampung Balinuraga dan Masyarakat Lampung Asli. Rakyat Bali sangat marah dengan kejadian tersebut karena merasa kaum minoritas (Hindu) tidak diperhatikan di Indonesia.

    "Hindu Bali menghargai Ke- Bhinekaan nusantara, namun bila negara ini telah teracuni bangsa Arab yang ingin mengislamkan negara kita, saatnya Hindu Senusantara mengembalikan kejayaan Majapahit dan Hindu di Tanah Nusantara ini".

    Papua : ”Kini saya tetap OPM”

    Papua : ”Kini saya tetap OPM”

    nick messetMantan Petinggi Organisasi Papua Merdeka yang sudah berjuang untuk mewujudkan Papua merdeka kini mendapatkan secercah cahaya kebenaran dan kembali sadar untuk membangun Papua yang lebih sejahtera dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan salah satu Panglima TPN OPM wilayah Mamta Lambertus Pekikir beberapa waktu lalu mengatakan “Kami akui Papua masih milik Indonesia, jadi tidak mungkin seseorang membuat gerakan atau melawan negara”.
    Mantan Petinggi Organisasi Papua Merdeka yang sudah berjuang untuk mewujudkan Papua merdeka kini mendapatkan secercah cahaya kebenaran dan kembali sadar untuk membangun Papua yang lebih sejahtera dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan salah satu Panglima TPN OPM wilayah Mamta Lambertus Pekikir beberapa waktu lalu mengatakan “Kami akui Papua masih milik Indonesia, jadi tidak mungkin seseorang membuat gerakan atau melawan negara”.

    Menurut Lambertus, dengan masih berstatus bagian dari NKRI, Papua tidak mudah digoyang atau dijadikan negara sendiri. Kita hanya bisa menunggu hingga PBB meninjau kembali resolusi 2504 yang menetapkan Papua bagian dari Negara Indonesia. “Perlawanan bersenjata, dialog, dan sebagainya akan sia-sia, tapi bila resolusi ini tidak diubah, akan sama saja hasilnya,” katanya. Ia meminta warga Papua agar bersabar dan menunggu perjuangan damai di dunia internasional.

    Sementara itu, Nick Messet, mantan tokoh OPM Luar Negeri yang telah sadar dan kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi, mengatakan Papua merupakan bagian integral Indonesia sudah final. “Saya bertemu dengan petinggi di PBB, saya berjuang selama puluhan tahun, tetapi tidak menghasilkan apapun, masyarakat Papua hanya dibodohi dan ditipu oleh Belanda saat itu, dimana Belanda pernah menyampaikan akan memberikan kemerdekaan bagi rakyat Papua, namun itu hanya omong kosong belaka, dan Papua sudah final di dalam republik ini,” tegasnya.

    Baginya, perjuangan Papua menuju kemerdekaan hanya menguras energi. Banyak waktu akan terbuang dan hanya menimbulkan pertumpahan darah serta memakan korban yang sia-sia.
    Selain Nick Messet, pejuang Papua merdeka yang telah kembali ke Indonesia adalah sang pembuat Bendera Bintang Kejora Nicholas Jouwe dan Mantan Menteri Penerangan OPM Frans Albert Joku. Ketiga Petinggi OPM memulai sepak terjangnya memperjuangkan kemerdekaan Papua ketika berusia remaja.

    Nick Messet juga sempat belajar ilmu penerbangan di Papua Nugini. Pada tahun 1969, Messet melarikan diri ke luar negeri dan bergerak dalam gerakan bawah tanah pro-kemerdekaan Papua bersama Jacob Pray, Petinggi OPM koordinator Markas Viktoria. Faksi ini menjadikan 1 Juli 1971 sebagai hari kemerdekaan Papua Barat yang mempunyai Benderanya Bintang Fajar.

    “Saat ini yang tepat adalah bagaimana kita berbicara dengan pemerintah agar mereka mau terus membangun daerah ini dan menghentikan pembunuhan terhadap orang Papua,” ujarnya. ”saya sampai saat ini masih OPM, tapi bukan Organisasi Papua Merdeka, namun saat ini yang paling tepat OPM adalah Orang Papua Membangun”.

    Harapan kami para mantan petinggi Organisasi Papua Merdeka seperti Tete Jouwe, Ipar Franzalbert Joku serta Ondoafi Ramses Ohee Papua tetap damai dan mengharap kepada generasi muda Papua untuk bergandengtangan membangun Papua, meninggalkan mimpi-mimpi Papua merdeka, fokus dalam menuntut ilmu demi kepentingan rakyat Papua. ”Kita tetap OPM, Orang Papua Membangun, dalam bingkai NKRI” tegas Nick Messet.

    Rinto Kogoya : Papua Bangkit Lawan Korupsi Demi Pembangunan di Papua

    Rinto Kogoya : Papua Bangkit Lawan Korupsi Demi Pembangunan di Papua

    Situasi Papua dewasa ini yang diperhadapkan dengan berbagai persoalan dalam berbagai segi kehidupan baik dari aspek ekonomi politik maupun sosial dan kebudayaan tidak terlepas dari sejarah perkembangan kehidupan Rakyat Papua.

    Konflikdi Papua tidak hanya terjadi antarsuku, tetapu juga konfli vertikal antara pihak keamanan dengan masyarakat. Kesejahteraan terhadap masyarakat Papua juga masih jauh dari harapan. Keberadaan PT Freeport Indonesia yang melakukan eksplorasi dan eksplotasi di Tembagapura, Papua pun tidak lantas membuat masyarakat Papua beranjak dari ketertinggalannya. Para pengamat Papua pun mengimbau kepada pemerintah pusat agar mengedepankan pendekatan pembangunan untuk Papua.

    Yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana pendekatan untuk membangun Papua jangan melalui pendekatan politik, tapi dengan pendekatan pembangunan. Pertanyaannya adalah tiga hal mengenai kondisi Papua saat ini yaitu kenapa di tengah-tengah pembangunan, ada konflik terus di Papua, lalu mengapa banyaknya dana yang digelontorkan untuk Papua akan tetapi masyarakat Papua masih miskin dan mengapa kerusuhan terus terjadi di Papua.

    Dana yang digelontorkan pemerintah pusat kepada Papua sudah sangat besar dan harus diakui membuat iri bagi provinsi lain. Hal tersebut disebabkan dana otonomi khusus (Otsus) yang digelontorkan setiap lima tahun dari pemerintah pusat yaitu sebesar Rp 30 triliun. Namun kemana dana-dana tersebut yang hilang tanpa jejak di bumi Papua. Kami merasa dibodohi oleh elit-elit Papua yang ‘memakan’ uang masyarakat Papua dengan korupsinya. Hal itu yang harus kita perjuangkan ‘Merdeka’ dari korupsi Papua.

    Jika dana tersebut diberikan di Jawa, pasti banyak yang bisa dibangun. Namun dana tersebut menjadi belum berarti banyak saat diberikan kepada Papua. Selain itu pemerintah Pusat telah berbaik hati dan memiliki perhatian lebih kepada kami rakyat Papua yang mengalokasikan sebesar 15 persen dari dana nasional untuk dana alokasi untuk Papua. Ini pun belum termasuk dana tambahan yang jumlahnya ditetapkan DPR atas usulan dari Gubernur.

    Dana ini kan menjadi tidak terbatas karena berdasarkan usulan dari Gubernur. Selain itu, PT Freeport Indonesia juga wajib memberikan satu persen dari hasil usaha pertambangannya kepada Papua yakni antara 58-70 juta Dolar AS.
    Mari samua LAWAN KORUPSI di Papua!!!! Demi Papua sejahtera lebih baik.

    Papua : Saatnya bangkit bersaing dengan daerah lain..

    Papua : Saatnya bangkit bersaing dengan daerah lain..

    Adanya anggapan bahwa Otsus telah gagal yang disampaikan oleh sebagian kecil masyarkat Papua, tetapi justru sebaliknya bahwa sebagian besar masyarakat Papua menganggap Otsus merupakan harapan generasi Papua untuk mempercepat pembangunan dan mensejajarkan Papua dengan daerah lain di Indonesia.

    Yohanes Kuayo adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD “APMD”) Yogyakarta asal Papua, terus berusaha membangun Papua melalui sebuah kritikan yang positif, bukan sekedar membuang-buang waktu mempermasalahkan status politik Papua dan selalu menyalahkan Pemerintah dalam penanganan Papua. Berikut sebuak kritik untuk peningkatan pendidikan Papua dan implementasi Otsus di bidang pendidikan yang disampaikan oleh salah satu generasi Papua. “Sekarang, inilah saatnya kita melihat, mengevaluasi, mengkritisi, saling memberi masukan dan saran, dan mengelola semua itu dengan mata hati demi peningkatan kualitas pendidikan di Papua. Melihat pendidikan kita saat ini, semua memprihatinkan. Namun kita tahu, saat ini, Papua sedang menggeliat, mulai membenah diri dalam hal pendidikan untuk maju bersaing dengan daerah-daerah lain’.

    Sayangnya, kita masih berkutat dengan masalah-masalah lama: kurangnya tenaga pengajar, kurangnya insfrastruktur dan sarana prasarana, juga mengenai kualitas guru pendidik dan sarana pendukung proses belajar mengajarnya.

    Yang mesti dibanggakan, dari segala keterbatasan yang ada saat ini, orang Papua mulai bangkit bersaing dengan daerah lain. Dalam olimpiade-olimpiade, anak-anak Papua sudah mulai diperhitungkan. Namun, kita masih belum “berdiri” secara keseluruhan. Masih banyak ketimpangan. Kita harus benahi semua itu dulu.
    Yang pertama saya mau soroti adalah peran pemerintah daerah dalam membangun pendidikan sebagai sarana pembangunan peradaban sebuah bangsa yang besar.

    Di seantero tanah Papua, masalah umum yang dihadapi adalah masalah kurangnya sarana-prasarana memadai dan alat bantu mengajar yang lengkap untuk membuat anak didik belajar dengan baik.
    Keluhan dan fenomena fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir sebagian besar sekolah terkesan seperti “itu-itu saja,” tidak ada perubahan. Padahal, sudah 13 tahun kita hidup dalam kucuran dana Otsus yang bermiliaran rupiah.

    Setahu saya, 20% dari dana Otsus itu dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Baru, bagaimana bisa sarana prasarana, insfrastruktur pendidikan, alat bantu mengajar, dan macam-macamnya masih seperti yang lama? Dikemanakan uang Otsus sebesar itu?

    Kedua, masih banyak anak-anak Papua yang belum bisa membaca di tingkat SD. Ini ironis. Sebagai contoh, di daerah pedalaman di Papua atau daerah lainnya yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, ada satu dua diantara mereka, tamatan SD, yang bahkan tidak bisa baca tulis hitung.
    Bagaimana bisa ia dapat lulus sampai tamat SD bila ia tidak tahu baca tulis hitung? Seperti itu ajaib. Keajaiban yang memalukan kita sendiri.

    Pantauan dari saya, selama ini, banyak guru- guru yang ada di seluruh kampung di daerah pegunungan Papua, pesisir sebagian, yang daerahnya terpencil, masih juga banyak yang meninggalkan tugas atau kewajibannya sebagai mengajar, menelantarkan anak didik.
    Hal ini membuat banyak anak sekolah yang tidak belajar dengan penuh dan lengkap. Proses belajar mengajar hanya setengah, terputus-putus, karena banyak guru-guru melakukan libur panjang sendiri.
    Menurut saya, ada 3 hal berkaitan dengan poin kedua ini yang harus dibenahi. Pertama, Papua kekurangan guru. Papua butuh banyak pasokan guru.

    Kedua, mental seseorang sebagai seorang guru belum terbentuk. Ia masih bermental biasa. Seorang guru yang telah menjiwai panggilannya sebagai guru, ia akan tetap mengajar, walau banyak rintangan menghadang.
    Saya ingin beri contoh. Para guru tua didikan Belanda yang tamat di SPG tempo dulu, sampai sekarang mereka tunduk dan patuh pada tugas mereka, mengajar. Mereka sangat hebat. Semangat dan dedikasi kerja sebagai guru tinggi. Tamatan PGSD saat ini mental gurunya lebih rendah dari SPG. Buktinya, guru-guru muda saat ini di Papua lebih banyak buat libur panjang sendiri ketimbang mengajar di sekolah.

    Dan yang ketiga, pendidikan Papua butuh perhatian serius dari pemerintah daerah Papua dan kabupaten. Ini dalam bentuk rangsangan kepada sekolah-sekolah agar menjadi lebih baik.
    Juga, bagaimana Pemda turut ambil bagian menumbuhkan semangat kompetitif antar siswa dan sekolah dalam hal kualitas, mungkin dengan mengadakan lomba-lomba di tingkat kabupaten atau provinsi. Hal ini untuk saat ini masih kurang.

    Sebagai penutup dari tulisan ini, ada beberapa hal yang mesti jadi perhatian kita bersama, terkait pendidikan kita di tanah Papua.
    Pertama, realisasikan uang Otsus yang dialokasikan untuk pendidikan, betul-betul untuk membangun pendidikan Papua agar lebih berkualitas.

    Kedua, mulai mengontrol dan mengawasi para guru yang sering in-disiplin dalam menjalankan tugas mereka, mendidik anak bangsa Papua untuk menjadi lilin-lilin kecil yang siap menerangi gelapnya hidup tanah Papua.
    Terkait poin kedua ini, yang mesti dilakukan adalah dua. Satu, mulai kontrol betul guru, dan pastikan guru mengajar. Bila tidak, potong gaji. Kedua, pada sekolah-sekolah yang menuju ke pendidikan guru, seperti PGSD, jangan lupa sisihkan perhatian khusus untuk membina mental.

    Mental sebagai seorang guru yang pantang mundur, kuat dan tegar, dan siap menjadi terang dimana saja, dalam hal apa saja, dan menjadi payung buat berlindungnya anak didik sangat perlu. Guru muda saat ini mentalnya kita ragukan. Banyak bukti terjadi di tanah Papua.

    Ketiga, pemerintah daerah perlu mengkaji, bagaimana bila pendidikan di Papua berpola asrama. Di sekolah, ia dapat bejalar. Di asrama, selain belajar, ia dapat bekal lain; spiritual, mental dan moral.
    Keempat, perlu ada rangsagan yang diberikan oleh pemeritah kepada sekolah, kepada anak didik. Mungkin dengan membuka ruang lomba, agar mental kompetitifnya muncul.
    Keempat, pendidikan harus menjadi sarana untuk mengangkat kebudayaan. Dengan pelajaran Mulok, seperti kata frater Marko Okto Pekey, Pr misalnya, seperti dilangsir http://www.majalahselangkah.com, beberapa waktu lalu.

    Juga perlu ada kajian mendalam, bagaimana bila kita membuat kurikulum pendidikan Papua yang khusus berkonteks Papua. Kita diimplementasikan kurikulum berkonteks Papua itu di Papua. Ini penting, sangat cocok dan sesuai dengan Otsus yang sementara ini Papua terima.
    Kelima, Menggali pendapat ketua Lembaga pendidikan Papua, Longginus Pekey, S. Pd, yang dilangsir majalah Selangkah, terkait bagimana bila mata pelajaran di Papua dikurangi karena membebani siswa, dan diarahkan menuju kejuruan sejak SMP kelas VII. Sejak kelas VII SMP, siswa telah dibagi menurut jurusan. Ini supaya ia semakin mantap dengan jurusannya.

    Semua kembali kepada komitmen Pemerintah bersama masyarakat dan generasi muda Papua. Tindakan pertama tentu diharapkan datang dari pemerintah melalui Dinas Pendidikan, menyikapi semua persoalan ini disertai dengan semangat membangun dari seluruh lapisan masyarakat Papua. Semoga pendidikan kita di Papua lebih maju dan semoga Papua tetap damai.

    Duduk Bersama Membangun Papua, Bukan Bialog Jakarta-Papua

    Duduk Bersama Membangun Papua, Bukan Bialog Jakarta-Papua

    Ide dialog Jakarta-Papua yang diharapkan oleh masyarakat Papua yang digagas oleh Jaringan Damai Papua atau sering disingkat JDP hingga saat ini tidak pernah terwujud. Banyak hal yang hingga saat ini menghambat dilaksanakannya dialog Jakarta-Papua, selain Papua masih bagian integral NKRI, sang inisiator dan koordinator JDP Muridan S.W yang juga merupakan pengamat dari LIPI disalah satu forum diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa Papua hingga saat ini belum siap jika memang akan dilakukan dialog, karena hingga saat ini Papua tidak mempunyai seorang tokoh pemimpin yang disegani oleh seluruh lapisan masyarakat dari Sorong sampai Merauke.

    Berbeda dengan pemikiran sang pengamat dari LIPI, seorang tokoh asli Papua Lukas Enembe justru menolak dilaksanakannya dialog Jakarta-Papua. Tepatnya pada tanggal 18 April 2013 di Jayapura, Gubernur Papua yang baru Lukas Enembe mengatakan, Tuntutan dialog Jakarta-Papua yang diingi¬nkan rakyat Papua terhadap pe¬merintah pusat saat ini sudah tidak diperlukan lagi, namun yang terpenting, bagaimana pemerintah pusat dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Papua. “Istilah dialog untuk membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat sepertinya tidak cocok. Oleh karena itu, diperlukan penyebutan lain, seperti duduk bersama atau bicara di para-para” tegasnya.

    Salah satu bukti Papua akan aman dan damai dalam pembangunan tanpa bayang-bayang kekrasan yang dilakukan oleh TPN OPM, pihak Goliat Tabuni sebagai Panglima TPN OPM telah meneleponnya dan mengatakan bahwa Goliat dan pasukannya akan ikut mendukung dirinya membangun masyarakat Papua. Atas keinginan TPN-OPM yang ingin kembali ke masyarakat, sebagai gubernur dirinya akan memfasilitasi mereka untuk usaha, agar mereka bisa hidup layak seperti masyarakat umum.

    Sementara, Ketua Komisi A Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Prov. Papua, Ruben Magai mengatakan, tetap kukuh agar ‘dialog Jakarta-Papua’ karena telah disusun dalam draft dan persoalannya telah dibahas. Saat ini, tinggal bagaimana pemerintah pusat merespon tentang dialog Papua-Jakarta tersebut. Apabila draft atau tema yang ditawarkan JDP dapat disandingkan dengan konsep dan pikiran pemerintah pusat, baru dapat dilakukan dialog.

    Namun sebagai anak bangsa, pernyataan Lukas Enembe sebagai pemimpin Rakyat Papua yang dipilih secara demokrasi harus tetap dihormati. Papua sebenarnya belum siap kalau memang dilakukan dialog seperti pernyataan pengapat LIPI. Jika menilik pernyataan pengamat LIPI tersebut, beberapa tokoh masyarakat yakin bahwa apa yang disampaikan oleh pemimpin baru masyarakat Papua Lukas Enembe sangat tepat bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan Papua. Duduk bersama dan berbicara di para-para adat lebih tepat dan bernuansa damai dibandingkan dialog Jakarta-Papua. Jadi tidak perlu lagi dialog Jakarta-Papua yang dipastikan akan merugikan waktu, tenaga serta pikiran rakyat Papua seperti yang disampaikan Gubernur Papua. Duduk bersama dan berbicara di para-para adat akan lebih damai dan bermartabat.

    Index Berita : Radar Walak Papua

    Disable Fungsi Port USB Disk


    Disable Fungsi Port USB Disk

    Karena alasan tertentu pada komputer windows xp anda, suatu saat mungkin anda ingin menonaktifkan fungsi USB (Universal Serial Bus) flashdisk, hardisk external, CD Rom external , Flash memory dll yang menggunakan port USB, tanpa mempengaruhi fungsi peripheral lainnya yang menggunakan port USB seperti keyboard, mouse, printer, scanner dll.

    Salah satu cara yaitu melalui windows registry
    1. Klik Start -->RUN --> ketik regedit --> klik OK
    2. Di jendela Registry Editor masuk ke : HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\USBSTOR

    3. Dobel klik dword Start(di sebelah kanan) ganti Value Data yang semula 3 menjadi 4 --> klik OK. --> tutup jendela registry editor
    Sekarang fungsi USB disk sudah disable (untuk beberapa kasus, komputer harus restart ).

    Untuk mengembalikan fungsi USB disk menjadi normal kembali ulangi langkah seperti di atas, pada langkah ketiga kembalikan Value Data dari 4 menjadi 3.


    Kalau anda tidak mau masuk ke registry editor, disini juga sudah disiapkan file registrinya (1KB), ada dua buah file satu untuk disable disk dan satu lagi untuk enable disk,
    untuk disable disk dobel klik pada file disable_usb_disk
    akan ada peringatan seperti berikut ini, klik Yes

    Fungsi disable USB disk sudah aktif ( beberapa kasus harus restart komputer).

    Untuk meng-enablekan kembali fungsi USB disk dobel klik file enable_usb_disk.

    Semoga bermanfaat.

     
     photo 10157336_236740293197660_4426391203945210162_n_zps38b20ecb.jpg
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif