Tampilkan postingan dengan label walak students. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label walak students. Tampilkan semua postingan
AMP TOLAK PEMEKARAN, MENUNTUT MENENTUKAN NASIB SENDIRI " PAPUA MERDEKA"
AMP TOLAK PEMEKARAN, MENUNTUT MENENTUKAN NASIB SENDIRI " PAPUA MERDEKA"
![]() |
| Penyerahan Sikap Aliansi Mahasiswa Wilayah Jawa Barat Penolakan DOB di Papua. 4 Nov 2013 di MENDAGRI Jakarta. (foto: Geitogo) |
![]() |
| Masa yang tergabung dalam AMP menolak Pemekaran di Seruruh Tanah Papua ( Foto:FB) |
![]() |
| Masa yang tergabung dalam AMP menolak Pemekaran di Seruruh Tanah Papua ( Foto:majalahselangkah.com) |
Penolakan tidak saja datang dari masyarakat dan para mahasiswa se-tanah Papua tetapi protes besar – besar datang juga dari unsur pemerintahan daerah provinsi Papua. Unsur pemerintah yakni dari pemimpin nomor satu Papua “ Lukas Enembe S.IP, M.Hum ini terlebih dahulu protes di MENDAGRI untuk pembatalan penindaklanjutan pemekaran.
Pemasukan surat penolakan dari gubernur membenarkan oleh Indra Winarto pegawai director jendral penataan otonomi daerah, disela audiens bersama enam orang perwakilan aksi masa dilantai satu gedung pertemuan kantor menteri dalam negeri Jakarta.
Rahasia surat protes dari gubernur mengungkap setelah para audiens mengingatkan sikap politik pemimpin kami bapak gubernur Lukas Enembe dibeberapa waktu lalu menolak pemekaran DOB.
Dalam penjelasan dia, kenapa sekarang baru datang protes 50% sudah jadi dan tinggal 50% saja. Lho, bukannya bapak gubernur kan sama sekali tidak pernah memberikan surat rekomendasi pemekaran daerah otonom baru. Suara dia mewakili suara rakyat Papua. Kami kira tidak perlu pengesahan lagi.
Lanjut dia, ini yang kedua surat penyusulan penolakan. Surat protes kedua ini mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) wilayah Jawa Barat mencakub Kota Study Jakarta, Bogor, Depok,Tengerang, Bekasi dan Bandung.
Ada dua tuntutuan dari aliansi mahasiswa Papua (AMP) yakni, pertama, penolakan 100% 33 pemekaran kabupaten kota dan 3 Provinsi pemekaran baru di se-tanah Papua. Kedua, menuntut diberikan kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri (self determination) sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua.
Pernyataan sikap pemerintah daerah Papua pun jelas yakni penetapan DOB tidak melalui mekanisme yang ada. Tanpa sepengetahuan pemerintah daerah provinsi Papua dan Papua Barat pun anggota DPR RI melaksanakan paripurna. Siapa yang memberikan rekomendasi kesemua pemekaran baik pemerintah Pusat maupun daerah Papua.
Permintaan penolakan dari pemerintah Papua ini tidak merealisasikan maka pihak Senayan DPR RI periode 2009-2014 merendahkan kepemimpinan orang Papua, membodohi serta membunuh kemampuan intelektualitas orang asli Papua. Hanya inisiatif dua anggota DPR RI asal Papua yang ada di Senayan membuat rakyat Papua menjadi keru dan menderita dalam politik pemekaran ini.
Dua anggota DPR ini mengagung- agungkan memanfaatkan isu kredibel bahwa pemekaran membawah kesejateraan bagi rakyat Papua. Kepada siapa kesejateraan itu ada ?.
Ex real: ekonomi lokal seperti: Pasar mama-mama Papua hanya ada janji- belaka. Secara politik: pemilihan kepala daerah di Papua menghadirkan konflik horizontal, pembunuhan bagi ra sosial budaya, hukum: orang – orang Papua yang mengejar keadilan di penjara sampai dibilang makar.
Investasi: tanah adat kami diambil secara paksa oleh kepentingan Jakarta, seperti kesepakatan APEC di Bali pada tahun ini menghadirkan dan Menyepakati Investor Cina dengan Indonesia pembukaan lahan baru di Papua.
Lain hal, menteri Pertanian Indonesia SUSWONO dengan perdana menteri Australia ABOTT menyepakati pengimpor sapi di Papua. Atas perizinan siapa ?.
Secara pendidikan: kurang lebih 44 tahun bersama Indonesia, berapa banyak profesor yang dikaderkan khusus orang Papua ?
Secara kesehatan : setiap hari rakyat Papua meninggal dunia, dari setiap rumah sakit yang ada di Papua. Apa penyebabnya kita tidak mengetahuinya.
Secara gizi : banyak keluarga kami juga meninggal dunia, seperti tambaraw 2012, yahukimo, food foisoning (bahan pangan impor mencampuri pestisida), drank foisoning ( minuman alkohol). Kesemua ini sudah menjaminkah pemerintahan yang sudah ada.
Maka tuntutan rakyat ini mengabaikan lalu mensahkan daerah otonom baru dari mendagri maka semuanya skenario pusat untuk memproteksi rakyat sipil, menuju pemusnahan orang asli Papua. Suatu saat kami sama seperti saudara kami Aborogin di Austalia maka tolak semuanya, kami rakyat Papua inginkan dan kebutuhan mendasar adalah Merdeka bebas dari penjajahan Indonesia dan kapitalisme asing. (UN/MG)
Label:
hmpw news,
walak post,
walak students
Lates Post : Walak Students
Pembangunan
Pendidikan

Suara Palajar Mahasiswa/i Mamberamo Tengah Papua se-Jawa dan Bali
Suara Palajar Mahasiswa/i Mamberamo Ten...Ekonomi
Gubernur: Memberamo Tengah Akan Menjadi Sumber Terang Kepada Kabupaten Lain di Papua
Gubernur: Memberamo Tengah Akan Menjadi...
Label:
seputar walak,
walak students
Kabupaten Walak Papua
Voice Of Walak - Kabupaten Walak Papua
![]() |
| Walak Elege Malang Jawa Timur |
Namun dalam rintihan ini kami sampaikan pesan kepada kayalak orang walak bahwa mari kita menentukan jatidiri kita kepada anak negeri lain di negeri ini, mulai dari buka hati kita, buka mata kita, buka diri kita sampai melepaskan semua kutukan yang lengket pada orang Walak...memang di negeri ini tidak ada yang susah tapi kayaknya orang Walak semakin susah dan semakin sulit untuk menghapuskan air mata dan air keringat (tra akan berhenti), memang airmata dan keringat orang Walak akan mengalir terus-menerus dan seterus-menerusnya... atau kah akan berhenti aliran air ini, atau siapakah yang dapat menghentikannya??? mungkin suku lain yang datang dan menghentikan semua air mata dan keringat orang Walak, kami orang walak harus mampu menghentikan semua ini, kami orang walak harus mampu menhentikan semua air mata dan keringat ini, kami orang walak harus mampu menhentikan semua air mata dan keringat ini, kami orang walak harus mampu menhentikan semua air mata dan keringat ini,......
Mari saudara dan saudari ku Intelektual, Tokoh, kepala2 suku dan semua adik2 Mahasiswa Walak sebagai Kader leluhur orang Walak, BUKAN SIAPA-SIAPA TAPI ANDA SUDAH ORANGNYA, KAPAN LAGI KALAU BUKAN SEKARANG, DIMAN LAGI KALAI BUKAN SINI, KINI SAATNYA ANDA HARUS BERTINDAK DAN BERTINDAK...SEBAB KEBANGKITAN ORANG WALAK MULAI DARI ORANG WALAK JUGA, ORANG WALAK AKAN MENJADI PENOLONG DITENGAH-TENGAH ORANG WALAK JUGA, BIARPUN ENGKAU BERGABUNG DENGAN SUKU LAIN TAPI SUKU LAIN PASTI KATAKAN ENGKAU ORANG WALAK, ORANG WALAK MEMANG BEDA, ORANG WALAK MEMANG SAMA DENGAN SUKU LAIN TAPI BEDA DAN MEMANG BEDA....................................................................
MULAI HARI INI, MARI KITA RENUNGKAN UNTUK MERDEKA ORANG, ORANG WALAK HARUS BICARA TENTANG KEMERDEKAAN, ORANG WALAK HARUS BICARA TENTANG KEMERDEKAAN ORANG WALAK, ORANG WLAK HARUS BICARA KEBEBASAN ORANG WALAK, ORANG WALAK HARUS MENENTUKAN NASIBNYA YANG JELAS, JANGAN TAKUT BICARA TENTANG KEMERDEKAAN ORANG WALAK, BARU KITA BISA MERDEKA, MERDEKA ADA DI UJUNG JARI....KITA BICARA KEMERDEKAAN WALAK DULU BARU KITA BICARA KEMERDEKAAN PAPUA .......................................
MERDEKA....................................................................
TUHAN PASTI AKAN BERIKAN KEMERDEKAAN UNTUK KITA SEMUA....
WALAK...
WALAK....
------------------------GBU---
Lewat Musyawarah HMPW, Masyarakat Walak Terus Pacu Bidang Pendidikan
Lewat Musyawarah HMPW, Masyarakat Walak Terus Pacu Bidang Pendidikan
Jayapura—Kesadaran akan pentingnya pendidikan, disadari oleh masyarakat suku Walak. Hal itu sebagaimana diungkapkan Ketua Ikatan Keluarga Walak (IKW) Petrus Gombo, bahwa sejak lama masyarakat Suku Walak telah berupaya secara bersama-sama menanggung beban keluarga yag tidak mampu untuk dibantu dalam meneruskan pendidikan anaknya.
"Kalau ada keluarga yang tidak mampu dan ada anaknya yang hendak meneruskan sekolah, maka masyarakat di kampung semua kumpul uang untuk bantu," ungkapnya kepada Bintang Papua usai pembukaan MUA (Musyawarah Umum Anggota) ke IX Himpunan Mahasiswa Pelajar Walak (HMPW) se Kota Studi Jayapura Papua, Sabtu (21/5).
Tentang MUA sendiri, menurut pendiri HMPW, Daniel Tabuni (ketua Ikwal), adalah dalam rangka reorganisasi.
"Hari ini kegiatan intinya reorganisasi pengurus," jelasnya.
Peran HMPW sebagai wadah sebanyak 217 mahasiswa (data tahun 2011) bernaung, dikatakan, adalah organisasi yang punya peran besar terhadap pembentukan dan pembinaan anggotanya untuk lebih semangat dalam menimba ilmu di dunia pendidikan.
"Wadah ini sudah banyak menghasilkan output, seperti saya sekarang sebagai dosen, dari wadah ini juga ada yang dalam waktu dekat meraih gelar Doktor, yaitu Bapak Arius Togotli," ungkapnya. (aj/amr)
Kalau bukan kitorang, siapa lagi?
| Kalau bukan kitorang, siapa lagi? |
“Saya bersyukur kepada Tuhan bisa mendapat kesempatan untuk terlibat dalam program ini sebagai tutor. Awalnya saya penasaran bagaimana caranya mengajar orang-orang tua yang belum bisa membaca. Namun, saat mulai menjalaninya saya semakin tertantang dan mata saya terbuka bahwa ternyata masih banyak saudara-saudara saya yang tertinggal jauh dalam hal pendidikan. Mungkin saya tidak bisa melakukan hal besar untuk Bintuni namun harapan saya, hal kecil yang saya lakukan saat ini yakni mengajar orang-orang tua membaca itu bisa membawa dampak yang besar bagi Bintuni. Kalau bukan kitorang, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Ungkap Agnes saat menceritakan pengalamannya menjadi tutor dalam program PBH/PBA. Harapan Agnes tentu juga merupakan harapan setiap orang yang peduli dengan pendidikan, begitu pula halnya dengan LAI. Melihat angka buta huruf yang masih tinggi di Indonesia, tentu hal ini menjadi salah satu kendala bagi gereja untuk menyampaikan Firman Allah bagi jemaat. LAI terpanggil untuk memberantas buta huruf khususnya bagi umat Kristiani. Dengan demikian program ini di satu sisi membantu gereja dan pada sisi yang lain turut menyukseskan program pemerintah khususnya dalam bidang pendidikan. Program PBH/PBA LAI di kabupaten Teluk Bintuni dimulai pada 22 Februari 2010 saat Bupati Teluk Bintuni yang diwakili oleh Asisten II Bupati, Bapak Daniel Sebaru mengetuk palu pada acara pembukaan program di gedung GKI jemaat Viadolorosa. Di Bintuni, ada 3 denominasi gereja yang ikut pada program PBH/PBA yakni Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Gereja Katolik dan Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI). Agar materi pelajaran yang disampaikan bisa maksimal, LAI menyiapkan materi pelajaran berupa buku seri 1-12. Buku seri 1-3 berasal dari Pada awal bulan Maret 2010 secara serentak, kegiatan belajar dimulai di seluruh yang tersebar di tujuh distrik di Teluk Bintuni.Kegiatan belajar dilaksanakan 3 kali dalam seminggu (penentuan hari belajar sesuai kesepakatan tutor dan warga belajar). Setiap pertemuan dilaksanakan minimal selama 2 jam. Kegiatan belajar biasanya dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas yang ada seperti sekolah, gedung gereja, balai kampung dan juga rumah masyarakat setempat. Usia warga belajar bervariasi antara 10 – 50 tahun. Untuk pemantauan di lapangan, secara berkala (minimal sekali sebulan), pimpinan program sekaligus pelaksana lapangan, Ratna Harefa, melakukan kunjungan ke masing-masing kelompok belajar. Perkunjungan ini dilakukan untuk melihat dan memantau secara langsung berjalannya kegiatan belajar di masing-masing kelompok sehingga kendala-kendala yang dialami oleh tutor dan juga warga belajar bisa cepat diketahui dan dicari solusinya. Selain itu, saat perkunjungan pelaksana lapangan juga memberikan motivasi kepada warga supaya tetap rajin dan semangat untuk belajar. Begitu pula halnya kepada tutor supaya tetap semangat untuk mengajar. Banyak tantangan yang harus dihadapi yang cukup menguji kesabaran dan ketekunan. Tujuh Distrik yang merupakan lokasi pelaksanaan kegiatan memiliki keterbatasan akses komunikasi, informasi dan transportasi. Sinyal handphone hanya ada dikota Bintuni. Akibatnya informasi penting yang hendak disampaikan ke kelompok belajar kadang terlambat atau bahkan tidak sampai. Begitu pula halnya dengan fasilitas penerangan (listrik) yang terbatas sering menyulitkan tim pelaksana untuk mengerjakan tugas-tugas sekretariat karena listrik di kota hanya menyala pada malam hari sementara di kampung-kampung aliran listrik dari PLN belum ada. Sarana transportasi juga masih terbatas. Beberapa tempat hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Kadang-kadang harus menyeberangi sungai dengan longboat (perahu kayu tanpa semang yang digerakkan oleh mesin motor) dan kadang harus berjalan kaki melewati hutan sekitar 3 jam perjalanan. Perjalanan sering bertambah sulit akibat cuaca yang kadang kurang mendukung. Saat cuaca panas, jalanan sangat berdebu. Namun, ketika hujan turun jalanan licin dan berlumpur. Ratna Harefa, pimpinan lapangan program ini, beberapa kali jatuh dari motor. Perjalanan bertambah sulit saat kendaraan yang digunakan rusak misalnya ban bocor atau rantai putus. Jika tidak bisa diperbaiki, terpaksa Ratna mendorong motor sampai bertemu mobil untuk sekadar menumpang, karena sepanjang perjalanan tidak ada rumah ataupun bengkel. Di kiri kanan jalan yang ditemui hanya pohon dan semak belukar, dengan binatang liar seperti ular, babi hutan, rusa, biawak, tikus tanah yang kadang-kadang melintas di jalan. Meskipun tidak mudah, namun tim pelaksana merasakan sukacita tersendiri saat melaksanakan program PBH/PBA khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni. Berinteraksi langsung dengan warga belajar dan melihat semangat mereka dalam mengikuti kegiatan belajar ibarat mendapatkan oase di tengah padang pasir. Rasa lelah dalam perjalanan seolah sirna melihat kerinduan mereka untuk bisa membaca. Sambutan hangat dari warga belajar saat tim tiba dilokasi belajar menjadi kenangan manis dalam perjalanan program PBH/PBA di Teluk Bintuni. Dari 438 orang peserta yang mengikuti evaluasi tahap akhir, hasil pelaksanaan program sebagai berikut: 350 orang (79.9%) telah memiliki kemampuan mengenal huruf hingga memahami bacaan. Sementara 88 orang (20,1%) dinyatakan belum mengenal huruf. Pencapaian ini perlu disyukuri karena dengan demikian program ini telah membantu gereja dan juga pemerintah dalam mengurangi angka buta huruf, khususnya bagi jemaat-jemaat yang ada di Teluk Bintuni. Masih banyak warga jemaat yang belum mengikuti kegiatan ini karena berbagai alasan. Ke depannya diharapkan gereja bisa meneruskan kegiatan ini di masing-masing jemaat sehingga angka buta huruf semakin berkurang dan pertumbuhan iman jemaat bisa semakin kuat melalui pembacaan Firman Tuhan. Pada tanggal 30 Oktober 2010, bertempat di gedung Gereja Katolik St. Yohanes Bintuni dilangsungkan ibadah penutupan program. Turut hadir dalam acara tersebut Bapak Harsiatmo Duta Pranowo (Sekum LAI), Bapak Alpha Martyanta (selaku manajer program), seluruh tutor dan korwil, perwakilan warga belajar, perwakilan dari tiga denominasi gereja yang mengikuti program PBH/PBA yakni :GKI di Tanah Papua, Gereja Katolik dan GPKAI, dan beberapa pihak dari instansi pemerintah. Sekum LAI memberikan sambutannya dan sekaligus menutup secara resmi kegiatan PBH/PBA LAI di Kabupaten Teluk Bintuni tersebut. Untuk warga belajar yang sudah mampu membaca, LAI memberikan buku bacaan lanjutan berupa Alkitab. Berakhirnya program, memunculkan tanggapan dari berbagai pihak mengenai pelaksanaan program PBH/PBA LAI di Teluk Bintuni. Beberapa di antara kesaksian tersebut dicatat tim pelaksana lapangan program ini. Mama-mama (baca: Ibu-ibu) dari kelompok belajar di kampung Atibo merasa senang dan bersyukur karena setelah mengikuti kegiatan ini mereka bisa mulai membaca Alkitab dan buku nyanyian rohani sehingga mereka pun lebih semangat dalam kegiatan ibadah di gereja. Di samping itu, melalui kegiatan ini mereka juga bisa belajar berhitung sehingga saat berjualan di pasar mereka tidak kesulitan menghitung kembalian uang. Bapak Yeremias Yerkohok (kepala kampung Jagiro) punya tanggapan lain. Ia yang awalnya belum bisa membaca dan ragu dalam 9 bulan program beliau bisa membaca. Di akhir program beliau sudah lancar membaca dan bersyukur melalui kegiatan ini. Kegiatan ini sangat membantu dan memperlengkapi beliau dalam menjalankan tugas khususnya sebagai salah seorang aparat kampung. Surat-surat yang harus tanda tangani tidak perlu dibacakan oleh orang lain. Dan beliau juga tidak bisa lagi ditipu menyangkut pengurusan hak wilayah. Pastor Damas dari Gereja Katolik, mengatakan bahwa awalnya beliau ragu program PBH/PBA LAI bisa berjalan di Bintuni mengingat budaya masyarakat Bintuni yang tidak mudah untuk didekati ditambah lagi kondisi perjalanan yang penuh tantangan. Namun pada akhir kegiatan Pdt. Asyer dan beberapa ketua jemaat lainnya dari GKI di Tanah Papua bersyukur bahwa melalui kegiatan jumlah jemaat yang ikut bernyanyi dan membawa Alkitab dalam kegiatan ibadah di gereja mulai bertambah. Hal ini disebabkan mereka sudah bisa membaca buku Mazmur, Nyanyian Rohani dan juga Alkitab. Mereka itu adalah warga belajar yang ikut program PBH/PBA. Kesaksian-kesaksian di atas memberi gambaran yang jelas kepada kita semua, bahwa program ini memberi banyak manfaat bagi peserta belajar di Kabupaten Tanah Bintuni. Antusiasme warga jemaat untuk mengikuti kegiatan ini sebenarnya sangat besar. Namun, hal ini terkadang kurang dibarengi dukungan dan perhatian dari pihak gereja setempat maupun instansi yang terkait, seperti aparat kampung ataupun distrik. Akibatnya pada pertengahan program banyak warga yang mengundurkan diri karena berbagai alasan. Ke depannya peran serta gereja dan instansi terkait perlu ditingkatkan untuk terus memotivasi dan memberikan pemahaman kepada warga belajar mengenai pentingnya pendidikan. Sebagai orang percaya kita mempunyai tanggung jawab untuk memberitakan kasih Kristus yang telah kita rasakan agar semua orang bisa turut merasakannya. Karena kesadaran itu, mari bersama-sama berantas buta huruf dan Mari beritakan kabar sukacita! Kalau bukan kitorang, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? (ratna harefa) |
Label:
bahasa walak,
pendidikan,
walak students






