Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
Hendaklah kamu sepikir, sehati, sejiwa, satu dalam kasih ::>>Voice of Walak Student ::>> Naor Lano. Diberdayakan oleh Blogger.

    Reggae is My Life

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    One People One Soul

    Pengibaran Bendera Bintang Kejora KODAP TRWP/TRPB Distrik Ilugwa Kabupaten Mamberamo Tengah Papua

    M I L I T A N


     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Militan

    Kata militan merujuk kepada orang atau kelompok orang-orang yang ikut serta dalam suatu pertempuran fisik/verbal yang agresif, biasanya dikarenakan suatu penyebab. Jurnalis seringkali mempergunakan kata miiltan sebagai istilan netral untuk prajurit yang tidak termasuk di dalam suatu organisasi militer. Secara khusus, seorang yang militan turut serta dalam tindak kekerasan sebagai bagian dari alasan memperjuangkan suatu tujuan politis.

    Secara populer, kata "militan" seringkali disamaartikan dengan teroris, walaupun mungkin dengan karakteristik yang lebih lemah. Istilah "negara militan" dalam bahasa sehari-hari merujuk kepada suatu negara yang memiliki sikap agresif dalam mendukung sebuah ideologi atau perkara. Dalam bahasa Perancis, istilah "militan" memiliki makna yang lebih lunak yang berarti "aktivis".



    Tulis text anda disini

    Musisi, Penyanyi dan Group Band Musik Indonesia: Tidak Kreatif dan Tidak Berkualitas!

    Musisi, Penyanyi dan Group Band Zaman Sekarang vs Musisi Zaman Dulu, Lebih Hebat Mana?
    Penulis: Watikam Crew
    Editor : Kilungga Tabuni


    Sekitar tahun 80-an sampe tahun 2006 dulu, menurut saya musik Indonesia bener-bener lagi merajai musik tanah air. Bagaimana tidak ? dulu itu musisi Indonesia jempolan banget ! Sejak tahun 80-an kita udah sering dengarkan yang namanya musik dari negara tetangga (Malaysia) bisa dengan mudahnya masuk ke Indonesia ? saya demen sekali sama yang namanya Iwan Fals, Ebiet G Ade, Nike Ardilah, Black Sweet, Ratih Purwasih, Ari Wibowo, Gomboh, Netty, Gloria Trio, Black Brothers dan lain sebagainya menurut saya mereka berkualitas karena mereka lebih memperhatikan musikalitas yang mereka sajikan buat penikmatnya. Bukannya dandanan yang menor, penampilan, kaca mata, atau whatever lah gaya artis jaman sekarang tuh.

    Mungkin anda semua para pembaca pasti ngeremehin saya. “Saya ini kan cuma anak jalanan yang sekarang baru ingin belajari perjalanan musik tanah air, tau apa tentang Tembang Kenangan SEARCH ? Mereka juga bisa dibilang cukup menyenangi lagu lawas dibanding lagu jaman sekarang. Walaupun saya masih orang awam begini, tapi jujur sekali tidak tertarik tuh sama musik jaman sekarang ! tidak berkualitas ! dan tidak kreatif ! justru saya cinta sekali sama lagu-lagu lawas. Di handphone saya aja ada 200-an lebih lagu lawas, dan cuma ada sekitar 3 lagu saat ini, dan gua sangat menikmati itu.
      
    Overall, apa ya ? sebenarnya yang bikin saya  jatuh cinta sama lagu lawas itu apa ya ? Saya tahu, tapi saya bingung menjelaskannya. Gini lho, saya itu memandang seorang penyanyi solo ataupun band ketika perform itu dari segi lirik dan aransemen lagunya. Kalo untuk lirik, saya lebih suka dengan lirik lagu lawas, karena bahasa liriknya itu masih puisi banget gitu lho, ibaratnya, susah buat kita mengerti tapi enak ketika dinyanyikan. Contohnya, ada potongan lirik lagu Ebiet G. Ade, yang bunyinya, TANYAKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG. Honestly, dari gua kecil ampe sekarang saya kelas 3 SMA pun gua belom tau maksudnya apa ? kan puisi banget. Dan itu semua cuma made in lagu lawas ! That’s the reason why i really love with lagu lawas. Kalo untuk arransemen musiknya, gua lebih bingung gimana cara ngejelasinnya, karena saya bukan orang yang berkecimpung di dunia seni musik. Mendingan kasih saya soal matematika saja dah, 7 hari 7 malem juga bakalan saya kerjakan.

    Oke, sekarang bedain aja ama lirik lagu penyanyi band atau musisi jaman sekarang. Liriknya tidak jelas sekali. Lebih frontal, tidak baku, dan tidak ada puisi-puisinya pisan itu lagu. Ada lirik yang bunyinya NYONTEK, KUHAMIL DULUAN UDAH 3 BULAN, LO GUE END, IWAK PEYEK, PACAR 5 LANGKAH, KUINGIN KAU MATI SAJA, CINTA SATU MALAM <<<<<< INI LAGU APA-APAAAAAN WOOOOOY ??????!!!!!!! NYAYUR WOOOOOY !!!!!

    Well, yang bikin saya jatuh cinta sama lagu lawas itu juga karena saya mandang mereka itu bener-bener para pekerja keras sejati. Bayangin saja, waktu jamannya mereka menuju ketenaran itu tidak mudah, bahkan sangat berliku. Tidak kayak sekarang, internet ada, tinggal ngupload video saja ke youtube, ntar kalo menarik perhatian, tinggal dipanggil produser, rekaman, tampil di acara musik, jadi artis deh. Halah…....

    Penyanyi dan group band lawas itu juga orang-orang yang lebih mementingkan musikalitas mereka dalam bermusik. Mereka tidak peduli mau rambut mereka gondrong kek, badan mereka kurus kek, pakaian dan sepatu mereka amburadul kek yang penting lagu berkualitas, penikmat merasa terhibur, dan mereka makin dikenal publik. 

    Beda sama penyanyi dan group band atau musisi jaman sekarang yang lebih memperhatikan penampilan. Cuma nampilin dada sama paha doang  sudah kayak fried chicken. Anak band-nya juga pada sok ganteng banget. Sok pake kacamata hitam, rambut digaya-gayain, pokoknya kata dia sih, itu sudah gaya yang paling keren. Sudah jelek mah jelek aja mas, takdir sampean itu. Eh… tidak taunya lagu mereka tidak laku di pasaran. Saya sih cukup malas nontonnya. Mending nonton berita dah. "Kata orang Jawa dan Sunda".

    Oke, setelah segi penampilan diri, sekarang saya mau bahas tentang penampilan pas mereka tampil di panggung. Seorang penyanyi papan atas ataupun group band papan atas yang menjunjung tinggi professionalitas, pasti mereka tampil dengan suara asli (bukan lipsync), band-nya juga tampil live (bukan karokean). Beda ama penyanyi/group band sekarang. Gaya sok ganteng, dan sok cantik bermodalkan paha dada kayak fried chicken, tapi NYANYI LIPSYNC ! sorry, itu gak banget buat gua ! "Kata orang Betawi"

    Sesama melayu-sunda, Jawa, Madura, Betawi, saja bisa bilang begitu apa lagi coba Anda tanya pendapat suku bangsa orang-orang melanesia di indonesia seperti Flores, Maluku, dan Papua ??? Apakah semua lirik lagu dan irama musik yang dinyanyikan oleh musisi dan penyanyi, dan group band artis papan atas indonesia apakah sesua selerah atau gaya hidup budaya mereka ? Sangat tidak bermutu dan tidak berprofesional bagi mereka. Mereka lebih suka dengan artis lekal di daerahnya ketimbang artis ibu kota.

    Oke, sekarang kita menilai dari sisi penonton yang menikmati. Kalo lagu lawas, penontonnya itu hadir dari kalangan elite, orang-orang kaya yang sepertinya sedang jenuh dengan rutinitas sehari-hari dan melampiaskan dengan cara nonton konser para musisi, penyanyi, group band lawas. Saya sih bukan sok tau, saya bisa berbicara seperti ini, karena saya penonton setia HARMONI - SCTV, sama acara baru DELUXE SYMPHONY - METRO TV yang isinya itu menyajikan lagu-lagu yang hits di jaman dulu, tapi dinyanyikan dengan penyanyi yang berkualitas di acara tersebut. Acara itu emang bener-bener hiburan buat para pecinta lagu lawas sejati. Kapan lagi ngedengerin lagu-lagu lawas nan mantap itu kalo tidak ada acara itu ?

    Oke, back to the topic. Belom lama juga gua ngeliat konser MAHAKARYA AHMAD DHANI bersama Ari Lasso, Once, Dewa 19, Afgan dan pengisi acara lainnya di RCTI. Begitu disorot penontonnya oleh kamera, Yassalaaaaam….. pakainannya tuh intelek banget. Mereka itu masih pada pake kemeja kantornya masing-masing. Yang perempuan juga sama, pakaian kantor ala perempuan gimana sih… ya begitulah. Pokoknya seisi JCC itu penuh dari ujung ke ujung cuma buat lihat Dewa 19 sama Ari Lasso, Afgan dan Once. Asli, penontonnya tuh tidak rusuh. Mereka ngefans, tapi tidak alay. Idolanya nyanyi, ya sudah mereka biasa saja. Yang hafal lagunya ikutan nyanyi, yang tidak hafal cuma diem saja. Ada juga yang ngerekam pake IPAD, saking inteleknya.

    Bandingankan sama penonton sekarang yang suka dateng di acara penyanyi atau group band jaman sekarang. Penontonnya tuh tidak ada intelek-inteleknya juga. Terkesan alay dan ujung-ujungnya itu pasti rusuh. Menurut mereka sih, mereka itu anak gaul. Roman-romannya gaul sama alay beda-beda tipis. Banyak dari mereka itu anak-anak ABG labil (ababil) yang kalo nonton konser band yang nge-rock, pasti gaya mereka angguk-anggukan tidak jelas. Yang ada kutu pada loncat kemana-mana.

    Well, gua cuma mau bilang sama semua musisi lawas idola saya. Please, balikin musik Indonesia kayak dulu. Buat kami bisa menikmati hasil karya indah kalian lagi. Cuma kalian yang terbaik dan terhebat sepanjang masa akan kami kenang selamanya.


    Anyway, sebagai penutup…
    Bagi kita sebagai penikmat musik, coba posisikan diri kita sebagai musisi. Sebaiknya tak perlu terlalu mudah mencap plagiat pada musisi. Kita mungkin beranggapan bahwa menciptakan lagu/karya yang original itu mudah. Tapi kita mungkin tak pernah merasakan betapa sulitnya menciptakan karya baru yang benar-benar fresh atau tidak punya kesamaan sedikit pun dengan karya yang sudah ada.

    Kalaupun bisa, tantangan berat selanjutnya adalah bagaimana agar karya tersebut bisa enak untuk didengarkan atau bisa disukai oleh penikmat musik. Pertanyaan saya, memangnya Anda mampu ya menghasilkan karya musik yang 100% original dan sekaligus enak didengar? Kalau Anda suka menuntut orang lain untuk menghasilkan karya yang original, Anda pun harusnya bebas dari unsur plagiat.

    Memangnya bisa ya?

    Source : Dari Berbagai Sumber

    Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua

     Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI
     
    Chairman of the Youth Movement Forum Papua Baptist (FGPBP), Turius Wenda represent Christian youth organization in Papua deplores misleading provocative statements from Muslim Forum (FUI) on December 23, 2011 which states will strive to 'maintain' Papua.

    According Turius, handling conflict in Papua can actually be resolved by the Indonesian government, so there is no organization or institution can unilaterally government intervention, especially for problem resolution Papua.

    "Should they [FUI] know and understand the root causes of Papua. if you do not know do not talk carelessly Papua issue. because of statements like this can be fatal or lead to racial conflicts or religious conflict. "he said in Jayapura, on Monday (26/11/2011).

    Moreover he said, the problem is not really a problem Papua eating - drinking that often they [FUI] naturally in their area, but this is a matter of ideology and history that full integration of controversy and deception. So normal that the Papua issue could not finish by the way - through violence or through jihad, often in propounded by radical groups that desire to do so for the sake of her dream to make this country into an Islamic state.

    He continued, the statement 'jihad in Papua' which in catapult Advisory Council Chairman FUI Rizieq Shihab, Muhammad Al Khathath and Former Chairman of the Legal Aid Foundation Munarman is a severe blow and highly discriminatory statements for the religious minorities in Indonesia, especially Christians in Papua

    "Harmony religious communities in Papua has been established and maintained from the beginning, so that any person who dismantle and undermine this harmony, then all the people who live in Papua must resist and reject the issue of jihad as FUI statement some time ago." He said.

    Unfortunate because this statement is just a comment without foundation that can trigger religious sentiments. This sentiment can be seen from their actions during the time in Ambon, Maluku. The issues they raise in Maluku is the action that they stamp as action 'against RMS' that they associate with Christians in Maluku. Especially seeing their statements are blindly accusing the Vatican church in Papua and Papua supporters of the referendum.

    For him, the Papuan leaders and church leaders together elements of peace lovers are trying to resolve the conflict in Papua in a peaceful and dignified, so that Christians in Papua will not give an opening to turn the violent methods that only harm Papuans. including Islamic Jihad approach militarism and violence.

    Papuan youth ready 'jihad'

    Wenda Turius emphatically said, "if the call for jihad and violence in Papua realized the youths of all elements of religious communities in Papua will strongly oppose and fight".

    We also appealed to all religious communities in Papua do not easily terporvokasi racial issues and jihad in Papua, and is expected to create a sense of peace and security every where we are, because Papua is a land of peace.

    In line with Turius, Buctar Tabuni, chairman of the West Papua National Committee (KNPB) expressed readiness to wage jihad against the intolerant who want to undermine peace in Papua.

    "We are ready for jihad in Papua, where Muslim Forum would strive in Papua." He said via cell to Vote Baptist Papua, on Tuesday (27/11/2011).

    Tabuni added, crazy statement Muslim Forum that will be resisted to avoid Papua. Because, if it occurred in Papua, it will result in a conflict of religion...

    Mohon Doa Restu Pembangunan Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena Papua

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta HMPW Se-Jayapura Papua

    Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena- Papua. Kantor Klasis Walak yang sedang dalam penyelesaian pembangunan sekitar 10 persen lagi. Tolong doakan dalam proses penyelesaian sekitar 10% pembangunan. Harapa akhir tahun ini diresmikan. 
    Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena- Papua.

      Pdt. Otopianus Kilungga (Ketua Klasis Walak GKIP)
     
     photo 10157336_236740293197660_4426391203945210162_n_zps38b20ecb.jpg
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif